Ambliopia (Mata Malas): Penyebab, Gejala dan Cara Menyembuhkan

ambliopia mata malas

Bagi yang belum pernah mendengar istilah ini, mungkin merasa aneh. Kok ada mata malas? Ya, ambliopia, istilahnya. Mata malas, dalam bahasa Indonesia.

Pengertian Ambliopia

Lasik Advisor National Lasik Center (NLC) dr. Sahilah Ermawati, SpM menjelaskan, ambliopia berasal dari kata amblys dan ops. Amblys artinya tumpul, ops artinya mata. Dalam bahasa Indonesia, menjadi mata malas.

Ambliopia (mata malas) adalah berkurangnya tajam penglihatan satu atau dua mata walaupun sudah dengan koreksi kacamata terbaik tanpa ditemukan kelainan struktur pada mata.

Jadi, dari depan hingga belakang semuanya normal. Namun mata orang tersebut tidak bisa mencapai penglihatan maksimal yaitu 1.0 atau 6/6.

Ambliopia (mata malas) merupakan penyebab umum penurunan tajam penglihatan unilateral pada anak. Namun sebagian besarnya bisa dicegah dan bersifat reversibel jika terdeteksi dini serta mendapat penanganan yang tepat.

Epidemiologi

Mata malas termasuk kasus yang jarang terjadi. Dari kasus yang ada, mayoritas yang mengalami adalah anak-anak.

Di dunia, prevalensi ambliopia hanya 0,2% – 6,2%. Sedangkan di Indonesia, prevalensinya lebih kecil lagi. Yakni 0,20% di pedesaan Yogyakarta dan 0,25% di perkotaan. Di Jakarta sebesar 2,7%.

Proses Terjadinya Ambliopia

Rangsangan penglihatan tidak normal selama periode sensitif. Pada saat masa perkembangan, rangsangan penglihatan tidak maksimal. Misalnya pasien anak-anak yang minus, bayangan jatuh di depan retina, tetapi tidak dikoreksi secara tepat sehingga rangsangan penglihatannya berkurang karena retinanya jarang digunakan.

Kemudian, hal ini berpengaruh pada kurang berkembangnya jaringan di otak. Sehingga otak hanya menyukai satu mata saja. Atau bahkan kedua mata sama-sama tidak bekerja maksimal.

Penyebab Ambliopia

  • Mata juling (strabismus)
  • Kelainan kacamata terlalu tinggi di kedua mata atau berbeda jauh antara mata kanan dan mata kiri. Baik kacamata minus karena miopia (rabun jauh) maupun kacamata plus karena hipermetropi (rabun dekat)
  • Adanya hambatan penglihatan seperti katarak dan ptosis. Katarak menyebabkan sinar yang masuk ke dalam mata terhambat. Sedangkan ptosis, kelopak mata akan menutupi masuknya rangsangan sinar ke dalam bola mata.

Gejala Ambliopia

Anak kecil umumnya tidak menyadari gejala ambliopia. Ia belum mampu mengekspresikan penglihatan yang berbeda. Dan ini menjadi berbahaya.

Sedangkan pada anak yang lebih besar, gejala yang terjadi adalah sebagai berikut:

  • Memicingkan mata
  • Memiringkan kepada untuk melihat objek
  • Duduk terlalu dekat dengan objek
  • Menutup sebelah mata saat membaca
  • Mengeluh sakit kepala

Jenis Ambliopia

Berdasarkan penyebabnya, mata malas (ambliopia) diklasifikasikan menjadi empat jenis:

Ambliopia strabismik

Ini yang paling umum terjadi pada mata juling (strabismus). Penyebab paling sering adalah heterotropia (khususnya esodeviasi) yang terus menerus terjadi pada satu mata.

Ambliopia anisometropia

Ini terjadi jika terdapat perbedaan status refraksi di antara kedua mata. Hipermetropi ringan atau perbedaan astigmatisme kedua mata sebesar 1-2D dapat memicu ambliopia ringan.

Ambliopia (iso)ametropia

Terjadi akibat kelainan refraksi yang relatif hampir sama pada kedua mata tetapi tidak terkoreksi pada masa anak-anak. Hipermetropi lebih dari 5 D dan miopia lebih dari 6 D bisa menjadi pemicunya.

Ambliopia deprivasi

Ini terjadi jika terdapat hambatan di sepanjang sumbu penglihatan. Sehingga, terjadi deprivasi atau kekurangan stimulus yang mengakibatkan penurunan pembentukan bayangan.

Penanganan Ambliopia

Lasik Advisor National Lasik Center (NLC) dr. Sahilah Ermawati, SpM menjelaskan, penanganan mata malas sangat tergantung pada:

  • Penyebab ambliopia
  • Berat ringannya
  • Umur saat terapi dimulai
  • Lamanya terapi
  • Metode terapi
  • Kepatuhan pasien

Terapi Pertama

Terapi yang pertama adalah menghilangkan penyebabnya. Jika penyebabnya katarak, perlu segera operasi katarak. Jika ada ptosis, perlu segera operasi ptosis. Jika penyebabnya kornea, maka operasi cangkok kornea.

Adapun jika penyebabnya adalah kelainan refraksi, maka tindakannya adalah koreksi kacamata. Untuk operasi lasik masih belum memungkinakan karena usianya masih anak-anak.

Operasi lasik sebenarnya merupakan tindakan yang paling efektif untuk menyembuhkan kelainan refraksi terutama miopia dan astigmatisme. Namun di antara syaratnya adalah pasien berusia di atas 18 tahun. Mengapa harus usia di atas 18 tahun? Karena pada usia ini umumnya status refraksi sudah stabil. Ketika refraksi sudah stabil, kemungkinan terjadinya regresi (pertambahan atau penurunan plus atau minus) setelah lasik sangat kecil.

Selengkapnya, silakan baca: Persiapan Sebelum Lasik

Terapi Kedua

Terapi kedua adalah patching (oklusi) dan penalisasi. Patching ini bertujuan mengaktivasi mata yang lemah dengan cara menutupnya. Semakin baik visus saat terapi dimulai, semakin pendek waktu oklusi. Patching atau oklusi ini bisa dilakukan hingga anak mencapai usia 10 tahun.

Sedangkan penalisasi bertujuan untuk mengaburkan mata dominan. Di antaranya dengan memberikan kacamata plus berlebihan.

Bagaimana Mencegah Ambliopia

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Adagium ini juga berlaku untuk mata malas. Karenanya, tindakan pencegahan sangat penting agar anak tidak terkena ambliopia.

Bagaimana langkahnya? Pertama, mewaspadai tingkah laku anak. Misalnya ketika anak terlalu dekat dengan TV atau objek lain. Kedua, memeriksakan anak ke dokter, lebih baik secara berkala. Misalnya anak yang mengalami miopia, jangan sampai kacamata selalu sama padahal minusnya telah berkembang baik naik maupun turun. []

Referensi:
American Academy of Ophtalmology. Clinical Optics; 2017-2018 Basic and Clinical Science Course. San Fransisco: American Academy of Ophtalmology; 2018
Universitas Indonesia Faculty of Medicine. Buku Ajar Oftalmologi. Jakarta: UI Publishing; 2020
dr. Sahilah Ermawati, SpM. 2021. Ambliopia (Mata Malas). Dalam Eye Knowledge – Things That Must be Mastered to Make Your Patient Happy, Surabaya, 17 April.

ambliopia mata malas

Bagi yang belum pernah mendengar istilah ini, mungkin merasa aneh. Kok ada mata malas? Ya, ambliopia, istilahnya. Mata malas, dalam bahasa Indonesia.

Pengertian Ambliopia

Lasik Advisor National Lasik Center (NLC) dr. Sahilah Ermawati, SpM menjelaskan, ambliopia berasal dari kata amblys dan ops. Amblys artinya tumpul, ops artinya mata. Dalam bahasa Indonesia, menjadi mata malas.

Ambliopia (mata malas) adalah berkurangnya tajam penglihatan satu atau dua mata walaupun sudah dengan koreksi kacamata terbaik tanpa ditemukan kelainan struktur pada mata.

Jadi, dari depan hingga belakang semuanya normal. Namun mata orang tersebut tidak bisa mencapai penglihatan maksimal yaitu 1.0 atau 6/6.

Ambliopia (mata malas) merupakan penyebab umum penurunan tajam penglihatan unilateral pada anak. Namun sebagian besarnya bisa dicegah dan bersifat reversibel jika terdeteksi dini serta mendapat penanganan yang tepat.

Epidemiologi

Mata malas termasuk kasus yang jarang terjadi. Dari kasus yang ada, mayoritas yang mengalami adalah anak-anak.

Di dunia, prevalensi ambliopia hanya 0,2% – 6,2%. Sedangkan di Indonesia, prevalensinya lebih kecil lagi. Yakni 0,20% di pedesaan Yogyakarta dan 0,25% di perkotaan. Di Jakarta sebesar 2,7%.

Proses Terjadinya Ambliopia

Rangsangan penglihatan tidak normal selama periode sensitif. Pada saat masa perkembangan, rangsangan penglihatan tidak maksimal. Misalnya pasien anak-anak yang minus, bayangan jatuh di depan retina, tetapi tidak dikoreksi secara tepat sehingga rangsangan penglihatannya berkurang karena retinanya jarang digunakan.

Kemudian, hal ini berpengaruh pada kurang berkembangnya jaringan di otak. Sehingga otak hanya menyukai satu mata saja. Atau bahkan kedua mata sama-sama tidak bekerja maksimal.

Penyebab Ambliopia

  • Mata juling (strabismus)
  • Kelainan kacamata terlalu tinggi di kedua mata atau berbeda jauh antara mata kanan dan mata kiri. Baik kacamata minus karena miopia (rabun jauh) maupun kacamata plus karena hipermetropi (rabun dekat)
  • Adanya hambatan penglihatan seperti katarak dan ptosis. Katarak menyebabkan sinar yang masuk ke dalam mata terhambat. Sedangkan ptosis, kelopak mata akan menutupi masuknya rangsangan sinar ke dalam bola mata.

Gejala Ambliopia

Anak kecil umumnya tidak menyadari gejala ambliopia. Ia belum mampu mengekspresikan penglihatan yang berbeda. Dan ini menjadi berbahaya.

Sedangkan pada anak yang lebih besar, gejala yang terjadi adalah sebagai berikut:

  • Memicingkan mata
  • Memiringkan kepada untuk melihat objek
  • Duduk terlalu dekat dengan objek
  • Menutup sebelah mata saat membaca
  • Mengeluh sakit kepala

Jenis Ambliopia

Berdasarkan penyebabnya, mata malas (ambliopia) diklasifikasikan menjadi empat jenis:

Ambliopia strabismik

Ini yang paling umum terjadi pada mata juling (strabismus). Penyebab paling sering adalah heterotropia (khususnya esodeviasi) yang terus menerus terjadi pada satu mata.

Ambliopia anisometropia

Ini terjadi jika terdapat perbedaan status refraksi di antara kedua mata. Hipermetropi ringan atau perbedaan astigmatisme kedua mata sebesar 1-2D dapat memicu ambliopia ringan.

Ambliopia (iso)ametropia

Terjadi akibat kelainan refraksi yang relatif hampir sama pada kedua mata tetapi tidak terkoreksi pada masa anak-anak. Hipermetropi lebih dari 5 D dan miopia lebih dari 6 D bisa menjadi pemicunya.

Ambliopia deprivasi

Ini terjadi jika terdapat hambatan di sepanjang sumbu penglihatan. Sehingga, terjadi deprivasi atau kekurangan stimulus yang mengakibatkan penurunan pembentukan bayangan.

Penanganan Ambliopia

Lasik Advisor National Lasik Center (NLC) dr. Sahilah Ermawati, SpM menjelaskan, penanganan mata malas sangat tergantung pada:

  • Penyebab ambliopia
  • Berat ringannya
  • Umur saat terapi dimulai
  • Lamanya terapi
  • Metode terapi
  • Kepatuhan pasien

Terapi Pertama

Terapi yang pertama adalah menghilangkan penyebabnya. Jika penyebabnya katarak, perlu segera operasi katarak. Jika ada ptosis, perlu segera operasi ptosis. Jika penyebabnya kornea, maka operasi cangkok kornea.

Adapun jika penyebabnya adalah kelainan refraksi, maka tindakannya adalah koreksi kacamata. Untuk operasi lasik masih belum memungkinakan karena usianya masih anak-anak.

Operasi lasik sebenarnya merupakan tindakan yang paling efektif untuk menyembuhkan kelainan refraksi terutama miopia dan astigmatisme. Namun di antara syaratnya adalah pasien berusia di atas 18 tahun. Mengapa harus usia di atas 18 tahun? Karena pada usia ini umumnya status refraksi sudah stabil. Ketika refraksi sudah stabil, kemungkinan terjadinya regresi (pertambahan atau penurunan plus atau minus) setelah lasik sangat kecil.

Selengkapnya, silakan baca: Persiapan Sebelum Lasik

Terapi Kedua

Terapi kedua adalah patching (oklusi) dan penalisasi. Patching ini bertujuan mengaktivasi mata yang lemah dengan cara menutupnya. Semakin baik visus saat terapi dimulai, semakin pendek waktu oklusi. Patching atau oklusi ini bisa dilakukan hingga anak mencapai usia 10 tahun.

Sedangkan penalisasi bertujuan untuk mengaburkan mata dominan. Di antaranya dengan memberikan kacamata plus berlebihan.

Bagaimana Mencegah Ambliopia

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Adagium ini juga berlaku untuk mata malas. Karenanya, tindakan pencegahan sangat penting agar anak tidak terkena ambliopia.

Bagaimana langkahnya? Pertama, mewaspadai tingkah laku anak. Misalnya ketika anak terlalu dekat dengan TV atau objek lain. Kedua, memeriksakan anak ke dokter, lebih baik secara berkala. Misalnya anak yang mengalami miopia, jangan sampai kacamata selalu sama padahal minusnya telah berkembang baik naik maupun turun. []

Referensi:
American Academy of Ophtalmology. Clinical Optics; 2017-2018 Basic and Clinical Science Course. San Fransisco: American Academy of Ophtalmology; 2018
Universitas Indonesia Faculty of Medicine. Buku Ajar Oftalmologi. Jakarta: UI Publishing; 2020
dr. Sahilah Ermawati, SpM. 2021. Ambliopia (Mata Malas). Dalam Eye Knowledge – Things That Must be Mastered to Make Your Patient Happy, Surabaya, 17 April.

Open chat
Hai Selamat Datang di NLC
ada yang bisa kami bantu?