Operasional: Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB

Operasional: Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB

Anisometropia, Ketika Mata Kanan dan Kiri Beda Kelainan Refraksi

anisometropia

Selama ini, kita mengenal kelainan refraksi ada tiga: rabun jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropi), dan silinder (astigmatisme). Selain itu, masih ada beberapa kelainan refraksi lainnya, misalnya presbiopi (mata tua) dan anisometropia.

Apa itu anisometropia, apa saja gejala dan penyebabnya, serta bagaimana cara mengobati kelainan refraksi tersebut?

Definisi Anisometropia

Anisometropia adalah kelainan refraksi pada kedua mata yang tidak sama. Kemampuan refraksi antara mata kanan dan mata kiri berbeda dengan perbedaan yang cukup signifikan.

Hampir setiap penderita kelainan refraksi memiliki kelainan refraksi yang berbeda antara mata kanan dan kirinya. Namun, jika perbedaan keduanya kecil, hal itu merupakan kondisi yang wajar dan tidak masuk dalam anisometropia. Sebaliknya, jika perbedaannya besar, ia baru masuk ke jenis kelainan refraksi ini.

Misalnya mata kanan mengalami miopia, sementara mata kiri mengalami hipermetropi. Mata kanan hipermetropi, mata kiri astigmatisme. Atau mata kanan miopia dengan minus besar, mata kiri normal.

Baca juga: Uveitis

Jenis Anisometropia

Beberapa ahli membagi anisometropia menjadi dua: ringan dan berat. Ringanjika perbedaan kelainan refraksi antara kedua mata kurang atau sama dengan 2 dioptri. Beratjika perbedaan kelainan refraksi antara kedua mata lebih dari 2 dioptri.

Selain pembagian global tersebut, ada pula pembagian jenisnya yang lebih rinci: absolut dan relatif. Absolut terdiri atas tiga tipe: simple, compound, dan mixed. Sedangkan relatif terdiri atas dua tipe: simple dan compund.

Anisometropia absolut

Jenis ini adalah perbedaan kemampuan pembiasan antara mata kanan dan mata kiri. Terdiri dari tiga tipe:

  • Absolut sederhana (simple). Yakni perbedaan kelainan refraksi jika salah satu mata normal tetapi mata lainnya mengalami miopia atau hipermetropi.
  • Absolut gabungan (compound). Yakni perbedaan kelainan refraksi jika kedua mata sama-sama mengalami miopia atau hipermetropi, tetapi ukuran minus atau plus berbeda.
  • Absolut campuran (mixed). Yakni perbedaan kelainan refraksi jika salah satu mata mengalami miopia sedangkan mata lainnya mengalami hipermetropi.

Anisometropia relatif

Jenis ini adalah kelainan refraksi silinder (astigmatisme) dengan perbedaan aksis antara mata kanan dan mata kiri. Terdiri dari dua tipe:

  • Relatif sederhana (simple). Yaitu perbedaan kelainan refraksi jika salah satu mata normal tetapi mata lainnya rabun jauh atau dekat, disertai dengan silindris (astigmatisme).
  • Relatif gabungan (compound). Yaitu perbedaan kelainan refraksi jika kedua mata mengalami astigmatisme dengan aksis (ukuran) berbeda.

Baca juga: Penyebab Katarak

Gejala Anisometropia

Gejala umum anisometropia yang umumnya timbul adalah sebagai berikut:

  • Penglihatan lebih kabur atau buram pada salah satu mata
  • Objek tampak berbeda ukuran antara melihat dengan mata kiri dan melihat dengan mata kanan
  • Mata terasa lelah
  • Nyeri pada mata
  • Penglihatan ganda atau berbayang

Pada fase awal, gejala-gejala di atas umumnya tidak terasa. Sedangkan pada kondisi yang lebih parah, gejala lain bisa muncul. Antara lain sakit kepala atau pusing, mual, dan kelelahan.

Baca juga: Blefaritis

Penyebab Anisometropia

Pada umumnya, anisometropia bersifat kongenital. Yaitu dalam masa pertumbuhan mata, kekuatan refraksi kedua mata perkembangannya berbeda. Namun, bisa juga karena faktor genetik atau trauma.

Jadi, jika dirinci, penyebabnya ada tiga:

  • Bawaan. Yakni faktor genetik atau keturunan. Orang tua yang mengalami kelainan refraksi juga menurun kepada anaknya.
  • Kongenital. Dalam masa pertumbuhan mata, kekuatan refraksi kedua mata tidak berkembang sama.
  • Didapatkan. Yakni akibat trauma atau cedera, misalnya cedera mata saat menjalani operasi katarak atau operasi lensa mata.

Cara Mengobati Anisometropia

Dengan penanganan yang tepat, anisometropia bisa terkoreksi sebagaimana kelainan refraksi lainnya.

Lensa Korektif

Kelainan refraksi ini bisa terkoreksi dengan lensa korektif yang tepat. Bisa berupa kacamata, bisa pula lensa kontak. Tentu lensanya disesuaikan sehingga antara mata kanan dan kiri berbeda sesuai kondisi mata.

Kacamata dan lensa kontak sebenarnya tidak menyembuhkan anisometropia. Ia mengoreksi secara temporal, bukan permanen. Artinya, saat penggunanya melepas kacamata atau lensa kontak, kelainan refraksi tersebut tetap seperti semula, tidak hilang. Mata tidak lantas berubah menjadi normal.

Laser Vision Correction (LVC)

Jika kacamata dan lensa kontak sifatnya mengoreksi temporal, Laser Vision Correction (LVC) atau operasi laser mata bersifat permanen. Dengan operasi laser mata, mata kembali normal tanpa kelainan refraksi sehingga tidak membutuhkan kacamata atau lensa kontak.

Umumnya, masyarakat umum menyebut seluruh metode LVC dengan istilah LASIK meskipun ada metode lain selain LASIK. Nah, berikut ini dua metode LVC yang efektif menyembuhkan anisometropia secara permanen.

Femto LASIK

Femto LASIK merupakan metode LVC generasi kedua. Ia lebih canggih daripada PRK yang merupakan generasi pertama. Femto LASIK berlangsung lebih singkat, minim rasa sakit, dan pemulihannya juga cepat.

Prosedurnya dengan membuat flap pada kornea dengan teknologi femtosecond laser. Flap itu kemudian dibuka dan dilakukan pengikisan kornea dengan teknologi excimer laser.

Relex SMILE

Relex SMILE (Refractive Lenticule Extraction – Small Incision Lenticule Extraction) lebih canggih lagi. Ia merupakan generasi ketiga operasi laser mata (LVC). Prosedurnya tanpa flap, hanya membutuhkan sedikit sayatan (2-4mm) sehingga tidak terasa sakit.

Selain tidak terasa sakit dan pemulihannya sangat cepat, Relex SMILE juga dapat meminimalisasi efek samping pasca operasi seperti mata kering. Secara keseluruhan, prosedur Relex SMILE cenderung sangat nyaman dan proses pemulihan penglihatan sangat cepat. [mbk/NLC]