Operasional: Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB

Operasional: Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB

Apakah Lasik Bisa Gagal? Apa Saja Risikonya?

Semakin banyak orang yang mengetahui dan tertarik dengan LASIK agar terbebas dari kacamata. Salah satu pertanyaan yang muncul dan terkadang membuat maju mundur untuk menjalani operasi ini adalah, apakah LASIK bisa gagal?

Pertanyaan seperti ini wajar karena mata adalah organ vital yang harus selalu terlindungi. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada indra penglihatan tersebut.

Nah, untuk menjawab pertanyaan apakah LASIK bisa gagal dan apa saja risiko jika gagal, yuk kita bahas poin per poin pentingnya.

apakah lasik bisa gagal

Apakah LASIK Bisa Gagal

Setiap prosedur medis pasti ada risiko kegagalan. Sebagaimana setiap pekerjaan manusia pasti ada risiko kegagalan. Misalnya naik pesawat terbang.

Namun degan keahlian yang expert dan teknologi mutakhir, kegagalan dalam penerbangan pesawat atau bepergian dengan kereta api bisa ditekan sekecil mungkin. Data statistik menunjukkan, peluang seseorang meninggal dalam kecelakaan pesawat adalah 1 berbanding 29,4 juta. Sangat kecil, bukan?

Demikian pula dengan operasi LASIK. Operasi laser ini telah diaplikasikan lebih dari 40 juta operasi di seluruh dunia dan seluruhnya menunjukkan LASIK aman. Tidak ada sejarah kegagalan yang menyebabkan kebutaan.

LASIK sudah melalui lebih dari 7.000 penelitian. Sejak tahun 1996, Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui Photorefractive Keratectomy (PRK) yang merupakan generasi pertama Laser Vision Correction (LVC).

FDA kemudian menyetujui penggabungan tekonologi flap dan pembentukan kembali kornea dengan laser excimer. Menandai dimulainya era operasi LASIK generasi kedua. Selanjutnya pada tahun 1999, FDA menyetujui Summit Excimer Laser (Summit Technologies, Waltham, Mass.) sebagai mesin LASIK. Lalu teknologi LASIK terbaru yang lebih canggih lahir, yaitu Relex Smile. Generasi ketiga LASIK.

Risiko LASIK Tak Sampai Sebabkan Kebutaan

Setiap prosedur medis pasti ada risiko gagal. Namun, risiko operasi LASIK tidak sampai menyebabkan kebutaan. Dari 40 juta lebih operasi LASIK di seluruh dunia, tidak ada kasus kebutaan yang pernah terjadi.

Sebab, LASIK bukanlah sembarang tindakan medis. Selain dokter mata ahli bedah (surgeon) benar-benar expert di bidangnya, LASIK juga menggunakan mesin laser dengan teknologi canggih. “Tembakan” laser mesin ini dapat dengan tepat mengenai target. Ia sangat presisi. Dilengkapi eyetracker yang bertujuan agar target LASIK tepat. Apabila mata bergerak di luar pola yang ditetapkan, mesin tersebut tidak bekerja. Sehingga operasi berjalan sangat aman.

Alhasil, pasien LASIK rata-rata mendapatkan 96 persen tingkat kepuasan penglihatan pasca operasi laser mata ini dibanding dengan kacamata terbaiknya.

Baca juga: Ciri-Ciri Mata Minus

Risiko Kegagalan Operasi LASIK

Jadi, risiko kegagalan selalu ada dalam setiap prosedur medis. Namun sepanjang sejarah LASIK yang telah diaplikasikan lebih dari 40 juta operasi, tidak ada kegagalan yang menyebabkan kebutaan. Asalkan LASIK dilakukan dengan kaidah yang benar oleh ahli bedah refraktif (surgeon) profesional dengan mesin laser berstandar.

Kalaupun terjadi ‘kegagalan’ dalam operasi LASIK, yang paling parah adalah terjadinya infeksi pasca operasi. Namun, ini juga sangat jarang terjadi. Kemungkinannya hanya 1 banding 100 ribu.

Infeksi post-LASIK tersebut bisa terjadi karena mengucek-ngucek mata, adanya debu yang masuk ke dalam mata, serta perawatan pasca LASIK yang kurang tepat.

Bentuk ‘kegagalan’ lain adalah ketidakpuasan pasien dengan hasil operasi LASIK. Namun pada dasarnya hampir semua pasien LASIK puas, bahkan menyatakan pandangannya jauh lebih baik daripada memakai kacamata terbaik sekalipun. Angka pasien dengan kepuasan tersebut mencapai 96 persen.

Ada pun yang tidak puas, bisa karena alasan undercorrection. Yaitu penglihatan yang kurang maksimal. Misalnya, mata minus 8. Setelah operasi LASIK, ternyata masih tersisa minus 1. Hal ini bisa terjadi ketika alat perekam profil mata tidak dapat memberikan data yang akurat karena saat pemeriksaan mata pasien dalam kondisi lelah setelah begadang atau banyak menatap layar gadget. Alhasil, saat pemeriksaan, kornea tidak dalam kondisi natural.

Karenanya, untuk menghindari risiko tersebut, patuhi semua rekomendasi dokter mata baik saat pre LASIK maupun menjelang hari-H operasi.

Sedangkan risiko lainnya lebih ringan. Misalnya rasa sedikit kering dan sedikit silau pada mata. Efek samping ini akan berkurang dan hilang setelah beberapa minggu.

Pada prosedur Relex Smile, baik efek samping mata kering maupun silau ini jauh lebih kecil. Jauh lebih minim. Proses recovery-nya juga jauh lebih cepat.

“Pagi Anda operasi Relex Smile, sore Anda bisa berlatih tinju,” kata Lasik Advisor National Lasik Center (NLC) dr. Harka Prasetya, SpM(K). []