Operasional: Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB

Operasional: Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB

Buta Warna: Gejala, Penyebab, Tes, Cara Menyembuhkan

Dunia ini indah dengan segala warna warninya. Namun, tidak semua orang bisa menikmati indahnya beragam warna. Ada orang yang tidak bisa membedakan warna tertentu bahkan tidak bisa membedakan dengan jelas keseluruhan warna karena mengalami buta warna.

Apa itu buta warna, apa saja gejala dan penyebabnya serta bagaimana cara menyembuhkan gangguan penglihatan tersebut?

Definisi Buta Warna

Sebenarnya, istilah yang tepat untuk kondisi tidak bisa membedakan warna adalah defisiensi penglihatan warna (color vision deficiency). Namun, istilah yang lebih terkenal adalah buta warna. Yaitu kondisi mata yang tidak mampu melihat warna secara normal.

Istilah buta warna kurang tepat karena hanya sedikit yang tidak mampu membedakan seluruh warna, mayoritasnya hanya sebagian warna. Karena itulah kemudian ada pembagian menjadi dua jenis. Jenis parsial untuk kesulitan membedakan warna tertentu. Sedangkan jika sulit membedakan seluruh warna berarti buta warna total.

Defisiensi penglihatan warna ini umumnya berlangsung sejak lahir dan berlangsung seumur hidup. Di Indonesia, prevalensi gangguan penglihatan ini sebanyak 0,7 persen. Jumlah kasus pada kaum pria lebih banyak daripada jumlah kasus yang terjadi pada kaum wanita.

Baca juga: Low Vision

Gejala Buta Warna

Pada dasarnya, gejala buta warna adalah kesulitan membedakan warna tertentu (parsial). Hanya sedikit orang yang tidak bisa membedakan seluruh warna.

Di antara gejala yang umum adalah keluhan sebagai berikut:

  • Sulit membedakan warna yang berdekatan
  • Sulit mengikuti pelajaran di sekolah terkait warna
  • Sulit membedakan buah yang mentah dengan yang matang
  • Sulit membedakan warna baju atau pakaian
  • Sulit membedakan warna obat yang umumnya berdekatan

Warna yang sulit dikenali tiap penderita buta warna bisa berbeda tergantung sel pigmen yang rusak atau tidak berfungsi. Secara umum ada tiga macam pigmen yaitu:

  • Erythrolabe. Yaitu fotopigmen yang memiliki sensitivitas maksimum pada cahaya dengan panjang gelombang 560 nm (merah).
  • Chlorolabe. Yaitu fotopigmen yang memiliki sensitivitas maksimum pada cahaya dengan panjang gelombang 530 nm (hijau).
  • Cyanolabe. Yaitu fotopigmen yang memiliki sensitivitas maksimum pada cahaya dengan panjang gelombang 420 nm (biru).

Kerusakan pada pigmen tersebut membuat sulit membedakan warna terkait. Umumnya terbagi menjadi tiga tipe yaitu merah-hijau, biru-kuning, dan total.

Buta Warna Merah-Hijau (Red-Green Deficiency)

Orang yang mengalami defisiensi penglihatan warna merah-hijau umumnya akan mengalami beberapa gejala, antara lain:

  • Melihat merah seperti abu-abu gelap
  • Melihat merah seperti kuning kecokelatan, dan hijau terlihat seperti warna krem
  • Kuning dan hijau terlihat kemerahan
  • Oranye, merah, dan kuning terlihat seperti kehijauan

Buta Warna Biru-Kuning (Blue-Yellow Deficiency)

Orang yang mengalami defisiensi penglihatan warna biru-kuning umumnya akan mengalami beberapa gejala, antara lain:

  • Melihat biru seperti kehijauan
  • Melihat kuning tampak seperti abu-abu atau ungu terang
  • Sulit membedakan merah muda dengan kuning dan merah

Buta Warna Total (Total Color Blindness)

Tipe ini yang paling parah, tetapi prevalensinya paling kecil. Penderitanya bukan hanya melihat perbedaan warna merah-hijau dan kuning-biru, tetapi hampir semua warna. Sekitar 10 persen penderitanya hanya bisa melihat warna putih, abu-abu, dan hitam.

Penyebab Buta Warna

Penglihatan warna bermula dari fotoreseptor di retina. Ada dua jenis fotosepetor yaitu sel kerucut yang jumlahnya mencapai 120 juta dan sel batang yang jumlahnya sekitar 7 juta. Sel-sel kerucut dibagi menjadi tiga sesuai fotopigmen yaitu: Erythrolabe  (merah), Chlorolabe (hijau), dan Cyanolabe (biru).

Dari tiga pigmen itulah otak akan menentukan persepsi warna. Jika sebagiannya rusak atau tidak berfungsi, terjadilah buta warna parsial. Jika seluruhnya tidak berfungsi normal, terjadilah buta warna total.

Secara umum, ada tiga penyebab terjadinya defisiensi penglihatan warna ini:

Faktor Genetik

Sebagian besar defisiensi penglihatan warna disebabkan oleh faktor genetik. Dari orang tua menurun ke anaknya. Tingkat keparahannya bisa ringan, sedang, atau berat.

Faktor Penyakit Lain

Penyebab kedua adalah faktor-faktor lain terutama penyakit tertentu, efek samping obat, paparan zat kimia, atau cedera.

  • Penyakit tertentu yang bisa menurunkan kemampuan melihat warna antara lain diabetes, anemia sel sabit, degenerasi makula, glaukoma, alzheimer, multiple sclerosis, leukimia, parkinson.
  • Efek samping obat-obat tertentu antara lain digoxin, phenytoin, ethambutol, dan sildenafil. Kecanduan alkohol juga bisa menjadi penyebab buta warna.
  • Paparan zat kimia tertentu seperti carbon disulfide dalam industri rayon atau styrene dalam industri plastik.
  • Cedera mata. Entah itu akibat kecelakaan atau terkena benturan.

Faktor usia

Penyebab ketiga adalah faktor usia atau penuaan. Seiring tua usia seseorang , kemampuan mata dalam menangkap warna akan menurun sehingga mulai kesulitan dalam membedakan warna. Kondisi ini akan semakin buruk jika ia juga menderita katarak.

Tes Buta Warna

Untuk memastikan apa seseorang menderita defisiensi penglihatan warna, terdapat sejumlah tes buta warna. Sedikitnya ada empat jenis tes untuk gangguan penglihatan warna ini.

Tes Ishihara

buta warna

Tes Ishihara (Ishihara pesudoisochromatic plates) merupakan tes yang paling sering digunakan di seluruh dunia sebagai skrining gangguan defisiensi penglihatan warna merah-hijau. Dokter akan meminta pasien untuk mengenali angka atau huruf yang tertera secara samar pada gambar berupa titik-titik berwarna.

Hardy-Rand-Rittler Pseudoisochromatic (HRR)

Hardy-Rand-Rittler Pseudoisochromatic (HRR) adalah tes yang memeinta penderita defisiensi penglihatan warna untuk melihat beberapa bentuk gambar, seperti segitiga ataupun lingkaran. Warna titik tersebut dibuat sedemikan rupa sehingga orang yang menderita defisiensi penglihatan warna tidak akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal. 

Tes Farnsworth D-15

Tes buta warna ini berbentuk seperangkat piring atau cakram berwarna yang harus diatur dalam urutan yang benar. Orang buta warna akan mengalami kesulitan untuk mengatur warna yang urut. Berdasarkan kesalahan ini dan vektor kebingungan yang dihasilkan, jenis buta warna dan tingkat keparahannya dapat dihitung.

Tes F-M 100

Farnsworth Munsell 100 Hue Test adalah sistem yang dikembangkan oleh Dean Farnsworth pada tahun 1940-an dan menguji kemampuan untuk mengisolasi dan mengatur perbedaan kecil dalam berbagai target warna dengan nilai konstan dan kroma yang mencakup semua warna visual yang dijelaskan oleh sistem warna Munsell. Tes Farnsworth D-15 merupakan salah satu variasinya.

Baca juga: Operasi LASIK

Cara Menyembuhkan Buta Warna

Sampai saat ini belum ada metode menyembuhka buta warna yang bisa mengembalikan kemampuan pasien melihat warna secara sempurna. Namun, pasien bisa melatih diri agar terbiasa dengan buta warna yang ia alami.

Apabila seorang anak mengalami defisiensi penglihatan warna ini, sangat penting bagi orang tua untuk mengetahuinya dan mengambil tindakan untuk membantu anak beradaptasi dengan kondisinya. Adaptasi yang baik membuat aktivitas belajar atau kesehariannya tetap bisa berjalan normal.

Langkah-langkah untuk meringankan dampak defisiensi penglihatan warna antara lain:

  • Menggunakan cahaya yang terang untuk membantu memperjelas warna.
  • Berlatih mengingat seluruh aktivitas yang berkaitan dengan warna, misalnya posisi warna pada rambu lampu lalu lintas.
  • Menggunakan teknologi pendukung seperti aplikasi khusus yang dapat mendeteksi dan memberi tahu warna pada suatu objek.
  • Menggunakan kacamata khusus yang dapat membantu mendeteksi warna tertentu.
  • Segera ke dokter jika ada efek samping lain dari buta warna atau jika sangat mengganggu.

Semoga pembahasan buta warna mulai dari definisi, gejala, penyebab, tes dan bagaimana meringankan dampaknya ini bermanfaat. Salam sehat. [mbk/nlc]