Computer Vision Syndrome (CVS): Penyebab, Gejala dan Cara Mengobati

Pada beberapa dekade terakhir, penggunaan komputer semakin meningkat. Apalagi dengan hadirnya smartphone yang hampir semua orang memiliki. Muncullah problem kesehatan mata yang baru yakni Computer Vision Syndrome (CVS).

Pandemi COVID-19 juga meningkatkan penggunaan komputer dan gagdet. Pemakaian smartphone meningkat 76 persen. Penggunaan laptop meningkat 45 persen. Penggunaan komputer desktop meningkat 32 persen.

Penggunaan komputer yang semakin berkembang di era globalisasi ini memicu penyakit baru yang kita kenal sebagai Computer Vision Syndrome (CVS). Penyakit ini merupakan salah satu gangguan pada mata yang kini jumlahnya semakin besar seiring dengan penggunaan gadget yang semakin intens.

Definisi Computer Vision Syndrome (CVS)

Menurut American Optometry Association, Computer Vision Syndrome (CVS) adalah problem pada mata dan penglihatan yang bersifat kompleks yang terkait dengan pemakaian mata untuk aktivitas dekat dan berhubungan dengan penggunaan komputer.

Visual fatigue dan digital eye strain merupakan istilah lain untuk menyebut penyakit mata ini. Yakni sekumpulan gejala pada mata yang disebabkan oleh penggunaan komputer atau layar monitor yang berlebihan.

Epidemiologi CVS

Menurut survei Occupational Safety Health Administrator (OSHA) pada 2015, Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan keluhan utama terkait kesehatan kerja di perkantoran. Bayangkan betapa banyaknya keluhan CVS pada saat ini, jika pada 2015 saja sudah menjadi keluhan utama kesehatan kerja di perkantoran.

Masih menurut survei yang sama, 9 dari 10 pekerja kantor yang menggunakan komputer lebih dari 3 jam sehari mengeluh tegang pada mata, lelah, mata kering, dan gangguan produktivitas.

Di Amerika Serikat, 150—200 juta penduduk terkena dampak CVS. Sedangkan studi di Eropa, penggunaan perangkat digital dua jam sebelum tidur akan berimbas pada berkurangnya produktivitas sebanyak 1,5 jam di hari berikutnya.

Prevalensi CVS global, rata-rata lebih dari 50 persen. Di Jepang, prevalensi CVS mencapai 72,1 persen pekerja kantor.  Di Amerika Serikat, prevalensi CVS mencapai 70 persen pekerja universitas. Prevalensi tertinggi terdapat di Nepal, yakni sebesar 89,9 persen mahasiswa.

Di Bali, hasil survei Dr. dr. Ariesanti Tri Handayani, SpM(K) di Universitas Udayana menemukan 58,8 persen mahasiswa kedokteran terdampak CVS.

Patofisiologi CVS

Bagaimana seseorang bisa terkena Computer Vision Syndrome (CVS)? Gambar pada komputer dibentuk oleh gambar kecil yang disebut dengan piksel. Berbeda dengan buku cetak, piksel tidak memiliki batas yang tegas. Latar belakangnya juga tidak terlalu kontras jika dibandingkan dengan huruf pada buku cetak. Hal ini mengakibatkan mata tidak bisa memfokuskan bayangan secara otomatis seperti saat kita membaca buku.

Mata akan berusaha memfokuskan bayangan saat melihat layar monitor. Dan apabila ini berlaku terus menerus untuk memfokuskan bayangan secara konstan pada periode tertentu, akan menyebabkan kelelahan pada otot mata. Kemudian menimbulkan keluhan mata tegang (eye strain). Akhirnya muncullah keluhan-keluhan yang terdapat pada CVS.

Penyebab Computer Vision Syndrome (CVS)

Ada tiga faktor penyebab Computer Vision Syndrome (CVS), yaitu sebagai berikut:

Faktor Personal

Yakni faktor penyebab CVS dari diri kita sendiri. Faktor personal penyebab CVS yang paling sering adalah posisi duduk dan bagaimana cara kita melihat komputer.

Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang paling penting adalah pencahayaan (lighting). Semakin cahanya redup, semakin besar potensi CVS.

Faktor Komputer

Untuk faktor komputer, yang paling berpengaruh adalah resolusi, contrass dan glare.

Keluhan dan Gejala CVS

Banyak keluhan atau gelaja CVS yang perlu kita ketahui:

Keluhan yang berhubungan dengan akomodasi mata

  • Kabur saat melihat dekat (blurred vision at near)
  • Kabur saat melihat jauh setelah menggunakan komputer
  • Kesulitan memfokuskan bayangan dari satu jarak ke jarak yang berbeda.

Keluhan yang berhubungan dengan penyakit mata kering

  • Iritasi atau terasa panas seperti terbakar
  • Mata terasa kering
  • Mata tegang
  • Sakit kepada
  • Mata lelah

Diaognosis CVS

Anamnesis

Keluhan subyektif CVS; riwayat bekerja di depan komputer; riwayat gangguan refraksi; riwayat mata kering; riwayat obat-obatan dan lensa

Kuisioner penggunaan komputer; kuisioner penyakit mata kering

Pemeriksaan

  • Pemeriksaan mata rutin
  • Pemeriksaan visus & refraksi
  • Pemeriksaan akomodasi & binokularitas
  • Pemeriksaan penyakit mata kering (Schirmer, TBUT, Staining permukaan rata)
  • Pemeriksaan refleks berkedip

Cara Mencegah CVS

Untuk mencegah Computer Vision Syndrome (CVS), biasakan duduk dengan ergonomi yang benar. Posisi yang benar, mata sedikit ke bawah saat kita melihat komputer.

Kedua, pencahayaan sangat penting. Ada dua jenis pencahayaan yaitu pencahayaan langsung (direct glare) dan pencahyaan tidak langsung (indirect glare). Pencahayaan langsung adalah pencahayaan yang langsung masuk ke mata saat kita melihat monitor. Sedangkan pencahayaan tidak langsung bisa terjadi akibat pantulan sinar ke komputer kemudian masuk ke mata kita. Bisa juga dari jendela sekitar tempat kita bekerja yang kemudian terpantul ke komputer dan masuk ke mata kita.

Pastikan pencahayaan yang cukup saat kita menggunakan komputer atau gadget. Juga minimalisr glare, sesuaikan brightness dan kontras.

Aplikasikan 1-2-10 rule. Yakni 1 feet (sekitar 30 cm) jarak mata dengan smartphone, 2 feet (sekitar 60 cm) jarak mata dengan komputer, dan 10 feet (sekitar 3 meter) jarak mata dengan TV.

Aplikasikan pula 20-20-20 rule. Setiap 20 menit sekali, istrirahatkan mata minimal 20 detik dengan cara melihat jauh sekitar 20 feet (6 meter).

Bagaimana Jika Terjadi Kelainan Refraksi?

Bagaimana jika terlanjur terjadi kelainan refraksi baik miopi, hipermetropi atau astigmatisme? Selain koreksi dengan kacamata atau lensa kontak, ada metode yang lebih canggih. Bukan hanya koreksi sementara tetapi juga menyembuhkan secara permanen, yaitu Lasik.

Lasik adalah singkatan dari Laser In Situ Keratomileusis. Yakni prosedur laser untuk mengoreksi gangguan refraksi sehingga bebas dari kacamata dan lensa kontak.

Pada dasarnya, Lasik adalah salah satu metode atau teknik yang termasuk dalam Laser Vision Correction (LVC). Namun, sebagian besar masyarakat mengenal metode Laser Vision Correction (LVC) dengan sebutan Lasik.

pencegahan computer vision syndrome

Lasik di NLC

National Lasik Center (NLC) sebagai pusat Laser Vision Correction (LVC) yang berpusat di Surabaya menyediakan tiga metode Lasik:

ReLEx® SMILE

Relex Smile atau lebih tepatnya ReLEx® SMILE (Refractive Lenticule Extraction – Small Incision Lenticule Extraction) adalah metode bedah refraktif yang lebih canggih dari PRK dan LASIK, hampir  tidak terasa sakit dan pemulihannya lebih cepat.

Relex Smile merupakan generasi ketiga Laser Vision Correction (LVC). Ia lebih canggih dari PRK dan LASIK. Prosedurnya hanya membutuhkan sedikit sayatan (2-4mm) sehingga rasa sakitnya hampir tidak terasa. Ia juga tanpa flap.

Selain itu, Relex Smile juga dapat meminimalisir efek samping pasca operasi seperti mata kering. Secara keseluruhan, prosedur Relex Smile cenderung sangat nyaman dan proses pemulihan penglihatan sangat cepat.

Femto Lasik

FEMTO LASIK (Laser Assisted In-Situ Keratomielusis) adalah metode bedah refraktif untuk mengatasi kelainan refraksi (miopia, hipermetropi, astigmatisme) dengan minim rasa sakit dan pemulihan cepat.

Femto Lasik merupakan generasi kedua Laser Vision Correction (LVC). Proses pemulihan berlangsung cepat, dampak pasca operasi lebih nyaman daripada PRK, dan efek terjadinya mata kering pasca lasik lebih ringan.

Lasek (PRK)

PRK adalah singkatan dari Photorefractive Keratectomy. Yakni prosedur bedah refraktif yang masih tetap digunakan untuk pasien Lasik dengan kondisi mata tertentu.

PRK atau sering disebut Lasek merupakan generasi pertama Laser Vision Correction (LVC). Prosedur PRK dilakukan dengan ablasi atau dilepasnya permukaan kornea.

Baca juga: Perbedaan Relex Smile dan Lasik

Semoga pembaca terbebas dari kelainan refraksi ini kacamata maupun lensa kontak. #HappyLasik #TrulyLasik []

*Dr. dr. Ariesanti Tri Handayani, SpM(K)
Lasik Advisor National Lasik Center (NLC)

Pada beberapa dekade terakhir, penggunaan komputer semakin meningkat. Apalagi dengan hadirnya smartphone yang hampir semua orang memiliki. Muncullah problem kesehatan mata yang baru yakni Computer Vision Syndrome (CVS).

Pandemi COVID-19 juga meningkatkan penggunaan komputer dan gagdet. Pemakaian smartphone meningkat 76 persen. Penggunaan laptop meningkat 45 persen. Penggunaan komputer desktop meningkat 32 persen.

Penggunaan komputer yang semakin berkembang di era globalisasi ini memicu penyakit baru yang kita kenal sebagai Computer Vision Syndrome (CVS). Penyakit ini merupakan salah satu gangguan pada mata yang kini jumlahnya semakin besar seiring dengan penggunaan gadget yang semakin intens.

Definisi Computer Vision Syndrome (CVS)

Menurut American Optometry Association, Computer Vision Syndrome (CVS) adalah problem pada mata dan penglihatan yang bersifat kompleks yang terkait dengan pemakaian mata untuk aktivitas dekat dan berhubungan dengan penggunaan komputer.

Visual fatigue dan digital eye strain merupakan istilah lain untuk menyebut penyakit mata ini. Yakni sekumpulan gejala pada mata yang disebabkan oleh penggunaan komputer atau layar monitor yang berlebihan.

Epidemiologi CVS

Menurut survei Occupational Safety Health Administrator (OSHA) pada 2015, Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan keluhan utama terkait kesehatan kerja di perkantoran. Bayangkan betapa banyaknya keluhan CVS pada saat ini, jika pada 2015 saja sudah menjadi keluhan utama kesehatan kerja di perkantoran.

Masih menurut survei yang sama, 9 dari 10 pekerja kantor yang menggunakan komputer lebih dari 3 jam sehari mengeluh tegang pada mata, lelah, mata kering, dan gangguan produktivitas.

Di Amerika Serikat, 150—200 juta penduduk terkena dampak CVS. Sedangkan studi di Eropa, penggunaan perangkat digital dua jam sebelum tidur akan berimbas pada berkurangnya produktivitas sebanyak 1,5 jam di hari berikutnya.

Prevalensi CVS global, rata-rata lebih dari 50 persen. Di Jepang, prevalensi CVS mencapai 72,1 persen pekerja kantor.  Di Amerika Serikat, prevalensi CVS mencapai 70 persen pekerja universitas. Prevalensi tertinggi terdapat di Nepal, yakni sebesar 89,9 persen mahasiswa.

Di Bali, hasil survei Dr. dr. Ariesanti Tri Handayani, SpM(K) di Universitas Udayana menemukan 58,8 persen mahasiswa kedokteran terdampak CVS.

Patofisiologi CVS

Bagaimana seseorang bisa terkena Computer Vision Syndrome (CVS)? Gambar pada komputer dibentuk oleh gambar kecil yang disebut dengan piksel. Berbeda dengan buku cetak, piksel tidak memiliki batas yang tegas. Latar belakangnya juga tidak terlalu kontras jika dibandingkan dengan huruf pada buku cetak. Hal ini mengakibatkan mata tidak bisa memfokuskan bayangan secara otomatis seperti saat kita membaca buku.

Mata akan berusaha memfokuskan bayangan saat melihat layar monitor. Dan apabila ini berlaku terus menerus untuk memfokuskan bayangan secara konstan pada periode tertentu, akan menyebabkan kelelahan pada otot mata. Kemudian menimbulkan keluhan mata tegang (eye strain). Akhirnya muncullah keluhan-keluhan yang terdapat pada CVS.

Penyebab Computer Vision Syndrome (CVS)

Ada tiga faktor penyebab Computer Vision Syndrome (CVS), yaitu sebagai berikut:

Faktor Personal

Yakni faktor penyebab CVS dari diri kita sendiri. Faktor personal penyebab CVS yang paling sering adalah posisi duduk dan bagaimana cara kita melihat komputer.

Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang paling penting adalah pencahayaan (lighting). Semakin cahanya redup, semakin besar potensi CVS.

Faktor Komputer

Untuk faktor komputer, yang paling berpengaruh adalah resolusi, contrass dan glare.

Keluhan dan Gejala CVS

Banyak keluhan atau gelaja CVS yang perlu kita ketahui:

Keluhan yang berhubungan dengan akomodasi mata

  • Kabur saat melihat dekat (blurred vision at near)
  • Kabur saat melihat jauh setelah menggunakan komputer
  • Kesulitan memfokuskan bayangan dari satu jarak ke jarak yang berbeda.

Keluhan yang berhubungan dengan penyakit mata kering

  • Iritasi atau terasa panas seperti terbakar
  • Mata terasa kering
  • Mata tegang
  • Sakit kepada
  • Mata lelah

Diaognosis CVS

Anamnesis

Keluhan subyektif CVS; riwayat bekerja di depan komputer; riwayat gangguan refraksi; riwayat mata kering; riwayat obat-obatan dan lensa

Kuisioner penggunaan komputer; kuisioner penyakit mata kering

Pemeriksaan

  • Pemeriksaan mata rutin
  • Pemeriksaan visus & refraksi
  • Pemeriksaan akomodasi & binokularitas
  • Pemeriksaan penyakit mata kering (Schirmer, TBUT, Staining permukaan rata)
  • Pemeriksaan refleks berkedip

Cara Mencegah CVS

Untuk mencegah Computer Vision Syndrome (CVS), biasakan duduk dengan ergonomi yang benar. Posisi yang benar, mata sedikit ke bawah saat kita melihat komputer.

Kedua, pencahayaan sangat penting. Ada dua jenis pencahayaan yaitu pencahayaan langsung (direct glare) dan pencahyaan tidak langsung (indirect glare). Pencahayaan langsung adalah pencahayaan yang langsung masuk ke mata saat kita melihat monitor. Sedangkan pencahayaan tidak langsung bisa terjadi akibat pantulan sinar ke komputer kemudian masuk ke mata kita. Bisa juga dari jendela sekitar tempat kita bekerja yang kemudian terpantul ke komputer dan masuk ke mata kita.

Pastikan pencahayaan yang cukup saat kita menggunakan komputer atau gadget. Juga minimalisr glare, sesuaikan brightness dan kontras.

Aplikasikan 1-2-10 rule. Yakni 1 feet (sekitar 30 cm) jarak mata dengan smartphone, 2 feet (sekitar 60 cm) jarak mata dengan komputer, dan 10 feet (sekitar 3 meter) jarak mata dengan TV.

Aplikasikan pula 20-20-20 rule. Setiap 20 menit sekali, istrirahatkan mata minimal 20 detik dengan cara melihat jauh sekitar 20 feet (6 meter).

Bagaimana Jika Terjadi Kelainan Refraksi?

Bagaimana jika terlanjur terjadi kelainan refraksi baik miopi, hipermetropi atau astigmatisme? Selain koreksi dengan kacamata atau lensa kontak, ada metode yang lebih canggih. Bukan hanya koreksi sementara tetapi juga menyembuhkan secara permanen, yaitu Lasik.

Lasik adalah singkatan dari Laser In Situ Keratomileusis. Yakni prosedur laser untuk mengoreksi gangguan refraksi sehingga bebas dari kacamata dan lensa kontak.

Pada dasarnya, Lasik adalah salah satu metode atau teknik yang termasuk dalam Laser Vision Correction (LVC). Namun, sebagian besar masyarakat mengenal metode Laser Vision Correction (LVC) dengan sebutan Lasik.

pencegahan computer vision syndrome

Lasik di NLC

National Lasik Center (NLC) sebagai pusat Laser Vision Correction (LVC) yang berpusat di Surabaya menyediakan tiga metode Lasik:

ReLEx® SMILE

Relex Smile atau lebih tepatnya ReLEx® SMILE (Refractive Lenticule Extraction – Small Incision Lenticule Extraction) adalah metode bedah refraktif yang lebih canggih dari PRK dan LASIK, hampir  tidak terasa sakit dan pemulihannya lebih cepat.

Relex Smile merupakan generasi ketiga Laser Vision Correction (LVC). Ia lebih canggih dari PRK dan LASIK. Prosedurnya hanya membutuhkan sedikit sayatan (2-4mm) sehingga rasa sakitnya hampir tidak terasa. Ia juga tanpa flap.

Selain itu, Relex Smile juga dapat meminimalisir efek samping pasca operasi seperti mata kering. Secara keseluruhan, prosedur Relex Smile cenderung sangat nyaman dan proses pemulihan penglihatan sangat cepat.

Femto Lasik

FEMTO LASIK (Laser Assisted In-Situ Keratomielusis) adalah metode bedah refraktif untuk mengatasi kelainan refraksi (miopia, hipermetropi, astigmatisme) dengan minim rasa sakit dan pemulihan cepat.

Femto Lasik merupakan generasi kedua Laser Vision Correction (LVC). Proses pemulihan berlangsung cepat, dampak pasca operasi lebih nyaman daripada PRK, dan efek terjadinya mata kering pasca lasik lebih ringan.

Lasek (PRK)

PRK adalah singkatan dari Photorefractive Keratectomy. Yakni prosedur bedah refraktif yang masih tetap digunakan untuk pasien Lasik dengan kondisi mata tertentu.

PRK atau sering disebut Lasek merupakan generasi pertama Laser Vision Correction (LVC). Prosedur PRK dilakukan dengan ablasi atau dilepasnya permukaan kornea.

Baca juga: Perbedaan Relex Smile dan Lasik

Semoga pembaca terbebas dari kelainan refraksi ini kacamata maupun lensa kontak. #HappyLasik #TrulyLasik []

*Dr. dr. Ariesanti Tri Handayani, SpM(K)
Lasik Advisor National Lasik Center (NLC)

Open chat
Hai Selamat Datang di NLC
ada yang bisa kami bantu?