Operasional: Senin - Sabtu | 09:00 - 16:00 WIB

Kacamata vs Lasik: untuk Miopia, Hipermetropi dan Astigmatisme

Sebelum membahas kacamata, kita perlu mengetahui tentang kelainan refraksi. Kelainan refraksi terdiri dari miopia, hipermetropi, astigmatisme dan presbiopia.

kelainan refraksi butuh kacamata

Pada mata normal, cahaya langsung akan fokus tepat di retina. Cahaya ini kemudian dikirimkan melalui sinyal-sinyal, melalui optikopis hingga sinyalnya diterima oleh otak.

Pada pasien miopia, umumnya bola mata lebih panjang. Sehingga, titik fokus berada di bagian depan dari retina. Pasien dengan hipermetropia atau rabun dekat, umumnya bola mata lebih pendek atau pembiasan yang terlalu kuat. Sehingga, titik fokus berada di bagian belakang dari retina.

Sedangkan astigamtisme terjadi karena kelengkungan kornea yang tidak sama. Pembiasan titiknya tidak pada satu titik fokus. Jadi ada beberapa titik fokus.

Nah, setelah mengetahui kelainan refraksi ini, jenis kacamata apa yang kita butuhkan? Kacamata apa yang tepat untuk pasien miopi, hipermetropi dan astigmatisme?

Kacamata untuk miopia

Pada pasien miopia atau rabun jauh, karena bola mata terlalu panjang, titik fokus berada di depan retina. Sehingga seseorang yang menderita miopi melihat objek yang jauh, akan buram. Akan tetapi jika melihat objek yang dekat, ia tampak jelas.

Miopia ini kita koreksi dengan kacamata concave. Kacamata concave lens atau lensa cekung ini akan membuat sinyal pada pasien miopia fokus lagi di retina. Jadi kalau pasien menderita rabun jauh atau miopia, yang kita pakai adalah kacamata concave. Masyarakat sering juga menyebutnya kacamata minus.

Kacamata untuk hipermetropi

Pada pasien dengan hipermetropi atau rabun dekat, karena bola mata lebih pendek dari normal, titik fokus akan berada di belakang atau melebihi retina. Ini bisa pula karena pembiasan yang masih terlalu kuat, umumnya pada anak-anak.

Hipermetropi ini kita koreksi dengan kacamata convex. Kacamata convex lens atau lensa cembung ini akan membantu pasien hipermetropi fokus kembali di retina. Masyarakat sering juga menyebutnya kacamata plus.

Pada anak-anak yang karena bola matanya masih pendek atau terjadi pembiasan kuat, seringkali seiring dengan perkembangan usia, hipermetropi akan berkurang.

Kacamata untuk astigmatisme

Penyebab astigmatisme atau mata silinder adalah kelempungan kornea yang tidak sama. Hal ini mengakibatkan beberapa meridian yang berbeda sehingga titik fokusnya tidak berada pada satu titik. Ada beberapa titik fokus. Ada yang di depan, ada yang di belakang.

Keluhan orang astigmatisme biasanya selain buram juga membayang. Astigmatisme ini kita koreksi dengan kacamata silindris.

Kacamata untuk presbiopia

Presbiopia umumnya terjadi karena akomodasi lensa yang mulai berkurang. Terutama karena faktor usia. Keluhan utamanya adalah buram saat membaca dekat.

Jadi, kalau seseorang hanya menderita presbiopia, ia hanya mengalami penglihatan buram saat membaca dekat. Sedangkan untuk melihat jauh, masih jelas.

Presbiopia ini berbeda dengan ketiga kelainan refraksi sebelumnya. Umumnya terjadi merata pada usia di atas 40 tahun. Mereka umumnya akan kesulitan membaca dekat baik membaca buku maupun melihat handphone.

Presbiopia ini kita koreksi dengan kacamata plus. Kacamata plus ini hanya untuk membaca, berbeda dengan hiperopia untuk melihat jauh.

Jenis kacamata apa yang saya butuhkan?

Sebagaimana penjelasan di atas, kacamata yang seseorang butuhkan bergantung pada kelainan refraksi yang ia alami. Apakah ia mengalami miopia, hipermetropi, astigmatisme, atau presbiopia.

Bagaimana bisa tahu kelainan refraksi? Yang pertama dari keluhan. Sering kali keluhan untuk miopia, hipermetropi dan astigatisme adalah buram saat melihat jauh. Namun ada juga penyakit mata lain yang keluhannya sama, misalnya katarak.

Karenanya, perlu bagi kita ke dokter mata, klinik mata atau rumah sakit mata untuk memeriksakan diri. Dokter mata atau refraksionis akan memastikan dengan beberapa alat (optotip snellen, trial lens, autorefractor), kelainan refraksi apa dan kacamata apa yang tepat untuk kita.

Setelah tahu dengan tepat kelainan refraksi, dokter mata atau refraksionis akan mengoreksi dengan kacamata yang tepat. Yakni concave lens untuk miopi, convex lens untuk hipermetropi, silindris untuk astigmatisme, dan kacamata baca untuk presbiopia.

Terkadang satu orang mengalami lebih dari satu kelainan refraksi. Misalnya ia mengalami miopia sekaligus astigmatisme. Bahkan kadang ada yang mengalami tiga sekaligus; miopia, hipermetropi dan astigmatisme. Tentu yang begini membutuhkan lebih dari satu lensa. Sesuai kelainan refraksi yang ia derita.*

Bebas dari kacamata dengan Lasik

Kacamata sebenarnya tidak bisa menyembuhkan kelainan refraksi. Demikian pula lensa kontak. Keduanya hanya membantu memfokuskan kembali bayangan yang masuk agar bisa tepat jatuh ke dalam retina sehingga penglihatan menjadi jelas.

Bagaimana mengobati kelainan refraksi baik miopia, hipermetropi maupun astigmatisme? Sehingga bebas dari kacamata? Jawabannya adalah Lasik.

Apa itu Lasik? Lasik adalah singkatan dari Laser In Situ Keratomileusis. Yakni prosedur laser untuk mengoreksi gangguan refraksi sehingga bebas dari kacamata dan contact lens.

Pada dasarnya, Lasik adalah salah satu metode atau teknik yang termasuk dalam Laser Vision Correction (LVC). Namun, sebagian besar masyarakat mengenal metode Laser Vision Correction (LVC) dengan sebutan Lasik.

Baca juga: Perbedaan Relex Smile, Femto Lasik dan Lasek (PRK)

Lasik di NLC

National Lasik Center (NLC) sebagai pusat Laser Vision Correction (LVC) yang berpusat di Surabaya menyediakan tiga metode Lasik:

1. ReLEx® SMILE

Relex Smile atau lebih tepatnya ReLEx® SMILE (Refractive Lenticule Extraction – Small Incision Lenticule Extraction) adalah metode bedah refraktif yang lebih canggih dari PRK dan LASIK, hampir  tidak terasa sakit dengan pemulihan yang lebih cepat.

2. Femto Lasik

FEMTO LASIK (Laser Assisted In-Situ Keratomielusis) adalah metode bedah refraktif terkini untuk mengatasi kelainan refraksi (rabun jauh/rabun dekat/silinder) dengan minim rasa sakit dan pemulihan cepat.

3. PRK

PRK (Photorefractive Keratectomy) adalah prosedur bedah refraktif yang masih tetap digunakan untuk pasien Lasik dengan kondisi mata tertentu.

Lebih jelas tentang tiga metode lasik tersebut dan bagaimana prosedurnya, silakan baca artikel Lasik.

Semoga pembaca terbebas dari kelainan refraksi ini tanpa kacamata. #HappyLasik #TrulyLasik []

*dr. Danti Ayu Irawati, Sp.M
Lasik Advisor National Lasik Center (NLC)

Sebelum membahas kacamata, kita perlu mengetahui tentang kelainan refraksi. Kelainan refraksi terdiri dari miopia, hipermetropi, astigmatisme dan presbiopia.

kelainan refraksi butuh kacamata

Pada mata normal, cahaya langsung akan fokus tepat di retina. Cahaya ini kemudian dikirimkan melalui sinyal-sinyal, melalui optikopis hingga sinyalnya diterima oleh otak.

Pada pasien miopia, umumnya bola mata lebih panjang. Sehingga, titik fokus berada di bagian depan dari retina. Pasien dengan hipermetropia atau rabun dekat, umumnya bola mata lebih pendek atau pembiasan yang terlalu kuat. Sehingga, titik fokus berada di bagian belakang dari retina.

Sedangkan astigamtisme terjadi karena kelengkungan kornea yang tidak sama. Pembiasan titiknya tidak pada satu titik fokus. Jadi ada beberapa titik fokus.

Nah, setelah mengetahui kelainan refraksi ini, jenis kacamata apa yang kita butuhkan? Kacamata apa yang tepat untuk pasien miopi, hipermetropi dan astigmatisme?

Kacamata untuk miopia

Pada pasien miopia atau rabun jauh, karena bola mata terlalu panjang, titik fokus berada di depan retina. Sehingga seseorang yang menderita miopi melihat objek yang jauh, akan buram. Akan tetapi jika melihat objek yang dekat, ia tampak jelas.

Miopia ini kita koreksi dengan kacamata concave. Kacamata concave lens atau lensa cekung ini akan membuat sinyal pada pasien miopia fokus lagi di retina. Jadi kalau pasien menderita rabun jauh atau miopia, yang kita pakai adalah kacamata concave. Masyarakat sering juga menyebutnya kacamata minus.

Kacamata untuk hipermetropi

Pada pasien dengan hipermetropi atau rabun dekat, karena bola mata lebih pendek dari normal, titik fokus akan berada di belakang atau melebihi retina. Ini bisa pula karena pembiasan yang masih terlalu kuat, umumnya pada anak-anak.

Hipermetropi ini kita koreksi dengan kacamata convex. Kacamata convex lens atau lensa cembung ini akan membantu pasien hipermetropi fokus kembali di retina. Masyarakat sering juga menyebutnya kacamata plus.

Pada anak-anak yang karena bola matanya masih pendek atau terjadi pembiasan kuat, seringkali seiring dengan perkembangan usia, hipermetropi akan berkurang.

Kacamata untuk astigmatisme

Penyebab astigmatisme atau mata silinder adalah kelempungan kornea yang tidak sama. Hal ini mengakibatkan beberapa meridian yang berbeda sehingga titik fokusnya tidak berada pada satu titik. Ada beberapa titik fokus. Ada yang di depan, ada yang di belakang.

Keluhan orang astigmatisme biasanya selain buram juga membayang. Astigmatisme ini kita koreksi dengan kacamata silindris.

Kacamata untuk presbiopia

Presbiopia umumnya terjadi karena akomodasi lensa yang mulai berkurang. Terutama karena faktor usia. Keluhan utamanya adalah buram saat membaca dekat.

Jadi, kalau seseorang hanya menderita presbiopia, ia hanya mengalami penglihatan buram saat membaca dekat. Sedangkan untuk melihat jauh, masih jelas.

Presbiopia ini berbeda dengan ketiga kelainan refraksi sebelumnya. Umumnya terjadi merata pada usia di atas 40 tahun. Mereka umumnya akan kesulitan membaca dekat baik membaca buku maupun melihat handphone.

Presbiopia ini kita koreksi dengan kacamata plus. Kacamata plus ini hanya untuk membaca, berbeda dengan hiperopia untuk melihat jauh.

Jenis kacamata apa yang saya butuhkan?

Sebagaimana penjelasan di atas, kacamata yang seseorang butuhkan bergantung pada kelainan refraksi yang ia alami. Apakah ia mengalami miopia, hipermetropi, astigmatisme, atau presbiopia.

Bagaimana bisa tahu kelainan refraksi? Yang pertama dari keluhan. Sering kali keluhan untuk miopia, hipermetropi dan astigatisme adalah buram saat melihat jauh. Namun ada juga penyakit mata lain yang keluhannya sama, misalnya katarak.

Karenanya, perlu bagi kita ke dokter mata, klinik mata atau rumah sakit mata untuk memeriksakan diri. Dokter mata atau refraksionis akan memastikan dengan beberapa alat (optotip snellen, trial lens, autorefractor), kelainan refraksi apa dan kacamata apa yang tepat untuk kita.

Setelah tahu dengan tepat kelainan refraksi, dokter mata atau refraksionis akan mengoreksi dengan kacamata yang tepat. Yakni concave lens untuk miopi, convex lens untuk hipermetropi, silindris untuk astigmatisme, dan kacamata baca untuk presbiopia.

Terkadang satu orang mengalami lebih dari satu kelainan refraksi. Misalnya ia mengalami miopia sekaligus astigmatisme. Bahkan kadang ada yang mengalami tiga sekaligus; miopia, hipermetropi dan astigmatisme. Tentu yang begini membutuhkan lebih dari satu lensa. Sesuai kelainan refraksi yang ia derita.*

Bebas dari kacamata dengan Lasik

Kacamata sebenarnya tidak bisa menyembuhkan kelainan refraksi. Demikian pula lensa kontak. Keduanya hanya membantu memfokuskan kembali bayangan yang masuk agar bisa tepat jatuh ke dalam retina sehingga penglihatan menjadi jelas.

Bagaimana mengobati kelainan refraksi baik miopia, hipermetropi maupun astigmatisme? Sehingga bebas dari kacamata? Jawabannya adalah Lasik.

Apa itu Lasik? Lasik adalah singkatan dari Laser In Situ Keratomileusis. Yakni prosedur laser untuk mengoreksi gangguan refraksi sehingga bebas dari kacamata dan contact lens.

Pada dasarnya, Lasik adalah salah satu metode atau teknik yang termasuk dalam Laser Vision Correction (LVC). Namun, sebagian besar masyarakat mengenal metode Laser Vision Correction (LVC) dengan sebutan Lasik.

Baca juga: Perbedaan Relex Smile, Femto Lasik dan Lasek (PRK)

Lasik di NLC

National Lasik Center (NLC) sebagai pusat Laser Vision Correction (LVC) yang berpusat di Surabaya menyediakan tiga metode Lasik:

1. ReLEx® SMILE

Relex Smile atau lebih tepatnya ReLEx® SMILE (Refractive Lenticule Extraction – Small Incision Lenticule Extraction) adalah metode bedah refraktif yang lebih canggih dari PRK dan LASIK, hampir  tidak terasa sakit dengan pemulihan yang lebih cepat.

2. Femto Lasik

FEMTO LASIK (Laser Assisted In-Situ Keratomielusis) adalah metode bedah refraktif terkini untuk mengatasi kelainan refraksi (rabun jauh/rabun dekat/silinder) dengan minim rasa sakit dan pemulihan cepat.

3. PRK

PRK (Photorefractive Keratectomy) adalah prosedur bedah refraktif yang masih tetap digunakan untuk pasien Lasik dengan kondisi mata tertentu.

Lebih jelas tentang tiga metode lasik tersebut dan bagaimana prosedurnya, silakan baca artikel Lasik.

Semoga pembaca terbebas dari kelainan refraksi ini tanpa kacamata. #HappyLasik #TrulyLasik []

*dr. Danti Ayu Irawati, Sp.M
Lasik Advisor National Lasik Center (NLC)

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on pinterest
Share on twitter
Open chat
Hai Selamat Datang di NLC
ada yang bisa kami bantu?