Operasional: Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB

Operasional: Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB

Mata Silinder: Gejala, Penyebab, dan Cara Menyembuhkan

Meskipun jumlah kasusnya tidak sebanyak rabun jauh (miopia), mata silinder (astigmatisme) juga merupakan gangguan refraksi yang menjadi momok tersendiri. Sampai-sampai muncul pertanyaan, mana yang lebih parah, mata minus atau silinder.

Pada usia muda, prevalensi kelainan refraksi di Indonesia mencapai 48,1 persen. Prevalensi miopia sendiri mencapai 26 persen, sedangkan astigmatisme berada di posisi kedua dengan prevalensi 20 persen. Tentu keduanya banyak beririsan karena sering kali orang yang menderita miopia juga menderita astigmatisme.

Nah, apa itu mata silinder (astigmatisme)? Apa saja gejala dan penyebabnya, serta bagaimana cara menyembuhkannya?

Apa Itu Mata Silinder

Mata silinder merupakan istilah lain untuk menyebut astigmatisme. Yaitu kondisi optik mata di mana sinar-sinar sejajar tidak dibiaskan pada satu titik fokus tunggal. Ia merupakan kelainan refraksi yang menyebabkan garis lurus tampak miring.

Pada mata normal, bias cahaya jatuh pada sebuah titik fokus tepat di retina. Sehingga penglihatan jelas dan tidak kabur, baik ketika melihat objek yang jauh maupun dekat. Pada mata silinder, bias cahaya jatuh pada titik fokus lebih dari satu. Objek–baik jauh maupun dekat- terlihat tidak fokus sehingga garis lurus pun tampak miring.

mata silinder

Lasik Advisor National Lasik Center (NLC) dr. Hani Faradis, Sp.M menjelaskan bahwa silinder adalah suatu kelainan yang pasien alami sehingga fokusnya tidak jelas dan penglihatannya berbayang. Akibatnya, ia sering memicingkan mata dan merasa pusing.

Seseorang bisa mengalami silinder saja, bisa juga mengalami silinder bersama miopia (rabun jauh) atau hipermetropi (rabun dekat).

Gejala Mata Silinder

Dr. Hani Faradis, Sp.M menjelaskan, orang yang mengalami mata silinder umumnya mengalami:

  • penglihatan kabur atau sering berbayang
  • sering memicingkan mata ketika melihat jauh maupun dekat
  • mengeluh kesulitan membaca tulisan yang kecil
  • sakit kepala, mata tegang dan lelah setelah membaca atau memakai gadget
  • pada gangguan mata silinder yang ringan, gangguan penglihatan mungkin tidak terjadi secara signifikan

Selain itu, ada pula gejala lain seperti fotopobia. Yaitu, mata terasa sakit atau tidak nyaman ketika melihat cahaya terang.

Penyebab Mata Silinder

Penyebab mata silinder adalah kelengkungan (kurvatura) dan kekuatan refraksi permukaan kornea dan/atau lensa yang berbeda-beda di antara berbagai meridian sehingga terdapat lebih dari satu titik fokus.

Hingga saat ini, para dokter mata belum dapat memastikan apa yang memicu kelainan tersebut. Dugaan kuat, kelainan tersebut terkait dengan faktor keturunan atau genetik. Sehingga, sering kali silinder terjadi sejak lahir.

Selain itu, silinder juga bisa terjadi setelah trauma kornea atau karena terbentuknya jaringan parut pada kornea setelah keratitis.

Ia juga bisa terjadi akibat cedera pada mata, atau karena efek samping operasi mata. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko mata silinder:

  • Miopia (rabun jauh) atau hipermetropi (rabun dekat) yang sudah parah
  • Gangguan mata lainnya, seperti keratoconus (degenerasi kornea) atau penipisan kornea
  • Adanya benjolan pada kelopak mata yang menekan kornea
  • Terlahir prematur atau stunting
  • Mengalami sindrom down

Bahaya Mata Silinder

Apakah mata silinder berbahaya? Mana yang lebih parah, mata minus atau silinder? Dua pertanyaan ini sering terdengar terkait gangguan refraksi.

Mata silinder bisa menimbulkan sejumlah keluhan seperti penglihatan berbayang, mata lelah, tegang, dan sakit kepala. Tentu jika tidak diatasi, keluhan ini bisa semakin parah.

Ketika seseorang mengalami mata minus (miopia) dan belum mendapatkan penanganan, maka pandangannya tampak kabur dan merasakan sakit kepala yang berlarut.

Sedangkan pengidap mata silinder, gejala awalnya memang sama seperti pengidap miopia. Namun, pada pengidap silinder tidak hanya terasa sakit kepala dan pandangan kabur saja, selain itu juga objek akan terlihat sangat berbayang dan bentuk objek menjadi tidak jelas.

Karenanya, bagi seseorang yang menderita mata silinder, sebaiknya tidak menyetir di malam hari. Sebab risiko akibat silau sorot lampu bisa membahayakan nyawa.

Pemeriksaan Mata Silinder

Bagaimana memastikan mata silinder, bukan penyakit mata lainnya? Umumnya dokter mata akan menggunakan berbagai pemeriksaan dan alat:

  • Juring astigmat (astigmatism dial technique)
  • Jackson-cross cyliner
  • Keratometer. Untuk mengukur kelengkungan kornea.
  • Cakram placiso. Untuk memeriksa permukaan kornea dan memperkirakan kelengkungan kornea secara sederhana.
  • Topografi terkomputerisasi. Untuk memberikan gambaran permukaan kornea lebih menyeluruh.

Cara Menyembuhkan Mata Silinder

Bagaimana cara menyembuhkan mata silinder? Jika maksudnya adalah mengoreksi, maka bisa menggunakan kaca mata atau lensa kontak. Namun untuk menyembuhkan secara permanen, hanya bisa dengan Laser Vision Correction (LVC) atau Lasik.

Untuk koreksi silinder, bisa dengan kacamata atau lensa kontak. Koreksinya menggunakan kacamata silindris (lensa silinder). Pada astigmatisme irreguler, lensa kontak bisa memberikan koreksi yang lebih baik. Lensa kontak juga memberikan penglihatan yang lebih tajam dan lebih luas pada jenis silinder tersebut.

Koreksi silinder with-the-rule menggunakan lensa silinder negatif pada aksis sekitar 180°. Adapun silinder against-the-rule, koreksinya dengan lensa silinder pada aksis sekitar 90°.

Sedangkan untuk mengoreksi secara permanen atau menyembuhkan silinder, hanya bisa dilakukan dengan bedah refraktif atau operasi laser (LVC). Ada tiga metode LVC, masyarakat umum menyebut ketiganya sebagai operasi Lasik.

Lasek (PRK)

PRK adalah singkatan dari Photorefractive Keratectomy. Istilah lainnya adalah Lasek. Yaitu prosedur bedah refraktif dengan melepas permukaan kornea/epitel kemudian membentuk kornea dengan laser.

PRK merupakan generasi pertama LVC. Dan hingga saat ini masih digunakan untuk pasien dengan kondisi mata tertentu.

prk

Femto LASIK

Femto LASIK (Laser Assisted In-Situ Keratomielusis) adalah metode bedah refraktif yang membentuk flap dengan mesin femtosecond laser, membukanya, lalu membentuk kornea dengan mesin excimer laser

Femto LASIK merupakan generasi kedua LVC. Metode inilah yang merupakan LASIK sesungguhnya. Operasinya berlangsung lebih cepat, proses pemulihannya juga cepat, dampak pasca operasi lebih nyaman daripada PRK, dan efek terjadinya mata kering pasca operasi juga lebih ringan.

femto lasik

Relex SMILE

Relex SMILE (Refractive Lenticule Extraction – Small Incision Lenticule Extraction) adalah metode bedah refraktif yang paling canggih, lebih canggih dari PRK dan LASIK. Hampir  tidak terasa sakit dan pemulihannya jauh lebih cepat.

Relex SMILE merupakan generasi ketiga LVC. Prosedurnya hanya membutuhkan sedikit sayatan (2-4mm), tanpa flap, sehingga rasa sakitnya hampir tidak terasa.

Selain itu, Relex Smile juga dapat meminimalisasi efek samping pasca operasi seperti mata kering. Secara keseluruhan, prosedur Relex Smile cenderung sangat nyaman dan proses pemulihan  penglihatan jauh lebih cepat.

relex smile

Begitu cepatnya pemulihan pasca operasi, LASIK Advisor National Lasik Center (NLC) dr. Harka Prasetya, SpM(K) mengatakan, “Pagi Anda operasi Relex SMILE, sore Anda bisa berlatih tinju.”

Baca juga: Perbedaan PRK, LASIK, dan Relex SMILE

Ketiga metode ini –PRK, LASIK, dan Relex SMILE- semuanya tersedia di National Lasik Center (NLC). Jadi, kapan Anda membebaskan diri dari kacamata atau lensa kontak? #HappyLasik #TrulyLasik

Mata Silinder: Gejala, Penyebab, dan Cara Menyembuhkan

Meskipun jumlah kasusnya tidak sebanyak rabun jauh (miopia), mata silinder (astigmatisme) juga merupakan gangguan refraksi yang menjadi momok tersendiri. Sampai-sampai muncul pertanyaan, mana yang lebih parah, mata minus atau silinder.

Pada usia muda, prevalensi kelainan refraksi di Indonesia mencapai 48,1 persen. Prevalensi miopia sendiri mencapai 26 persen, sedangkan astigmatisme berada di posisi kedua dengan prevalensi 20 persen. Tentu keduanya banyak beririsan karena sering kali orang yang menderita miopia juga menderita astigmatisme.

Nah, apa itu mata silinder (astigmatisme)? Apa saja gejala dan penyebabnya, serta bagaimana cara menyembuhkannya?

Apa Itu Mata Silinder

Mata silinder merupakan istilah lain untuk menyebut astigmatisme. Yaitu kondisi optik mata di mana sinar-sinar sejajar tidak dibiaskan pada satu titik fokus tunggal. Ia merupakan kelainan refraksi yang menyebabkan garis lurus tampak miring.

Pada mata normal, bias cahaya jatuh pada sebuah titik fokus tepat di retina. Sehingga penglihatan jelas dan tidak kabur, baik ketika melihat objek yang jauh maupun dekat. Pada mata silinder, bias cahaya jatuh pada titik fokus lebih dari satu. Objek–baik jauh maupun dekat- terlihat tidak fokus sehingga garis lurus pun tampak miring.

mata silinder

Lasik Advisor National Lasik Center (NLC) dr. Hani Faradis, Sp.M menjelaskan bahwa silinder adalah suatu kelainan yang pasien alami sehingga fokusnya tidak jelas dan penglihatannya berbayang. Akibatnya, ia sering memicingkan mata dan merasa pusing.

Seseorang bisa mengalami silinder saja, bisa juga mengalami silinder bersama miopia (rabun jauh) atau hipermetropi (rabun dekat).

Gejala Mata Silinder

Dr. Hani Faradis, Sp.M menjelaskan, orang yang mengalami mata silinder umumnya mengalami:

  • penglihatan kabur atau sering berbayang
  • sering memicingkan mata ketika melihat jauh maupun dekat
  • mengeluh kesulitan membaca tulisan yang kecil
  • sakit kepala, mata tegang dan lelah setelah membaca atau memakai gadget
  • pada gangguan mata silinder yang ringan, gangguan penglihatan mungkin tidak terjadi secara signifikan

Selain itu, ada pula gejala lain seperti fotopobia. Yaitu, mata terasa sakit atau tidak nyaman ketika melihat cahaya terang.

Penyebab Mata Silinder

Penyebab mata silinder adalah kelengkungan (kurvatura) dan kekuatan refraksi permukaan kornea dan/atau lensa yang berbeda-beda di antara berbagai meridian sehingga terdapat lebih dari satu titik fokus.

Hingga saat ini, para dokter mata belum dapat memastikan apa yang memicu kelainan tersebut. Dugaan kuat, kelainan tersebut terkait dengan faktor keturunan atau genetik. Sehingga, sering kali silinder terjadi sejak lahir.

Selain itu, silinder juga bisa terjadi setelah trauma kornea atau karena terbentuknya jaringan parut pada kornea setelah keratitis.

Ia juga bisa terjadi akibat cedera pada mata, atau karena efek samping operasi mata. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko mata silinder:

  • Miopia (rabun jauh) atau hipermetropi (rabun dekat) yang sudah parah
  • Gangguan mata lainnya, seperti keratoconus (degenerasi kornea) atau penipisan kornea
  • Adanya benjolan pada kelopak mata yang menekan kornea
  • Terlahir prematur atau stunting
  • Mengalami sindrom down

Bahaya Mata Silinder

Apakah mata silinder berbahaya? Mana yang lebih parah, mata minus atau silinder? Dua pertanyaan ini sering terdengar terkait gangguan refraksi.

Mata silinder bisa menimbulkan sejumlah keluhan seperti penglihatan berbayang, mata lelah, tegang, dan sakit kepala. Tentu jika tidak diatasi, keluhan ini bisa semakin parah.

Ketika seseorang mengalami mata minus (miopia) dan belum mendapatkan penanganan, maka pandangannya tampak kabur dan merasakan sakit kepala yang berlarut.

Sedangkan pengidap mata silinder, gejala awalnya memang sama seperti pengidap miopia. Namun, pada pengidap silinder tidak hanya terasa sakit kepala dan pandangan kabur saja, selain itu juga objek akan terlihat sangat berbayang dan bentuk objek menjadi tidak jelas.

Karenanya, bagi seseorang yang menderita mata silinder, sebaiknya tidak menyetir di malam hari. Sebab risiko akibat silau sorot lampu bisa membahayakan nyawa.

Pemeriksaan Mata Silinder

Bagaimana memastikan mata silinder, bukan penyakit mata lainnya? Umumnya dokter mata akan menggunakan berbagai pemeriksaan dan alat:

  • Juring astigmat (astigmatism dial technique)
  • Jackson-cross cyliner
  • Keratometer. Untuk mengukur kelengkungan kornea.
  • Cakram placiso. Untuk memeriksa permukaan kornea dan memperkirakan kelengkungan kornea secara sederhana.
  • Topografi terkomputerisasi. Untuk memberikan gambaran permukaan kornea lebih menyeluruh.

Cara Menyembuhkan Mata Silinder

Bagaimana cara menyembuhkan mata silinder? Jika maksudnya adalah mengoreksi, maka bisa menggunakan kaca mata atau lensa kontak. Namun untuk menyembuhkan secara permanen, hanya bisa dengan Laser Vision Correction (LVC) atau Lasik.

Untuk koreksi silinder, bisa dengan kacamata atau lensa kontak. Koreksinya menggunakan kacamata silindris (lensa silinder). Pada astigmatisme irreguler, lensa kontak bisa memberikan koreksi yang lebih baik. Lensa kontak juga memberikan penglihatan yang lebih tajam dan lebih luas pada jenis silinder tersebut.

Koreksi silinder with-the-rule menggunakan lensa silinder negatif pada aksis sekitar 180°. Adapun silinder against-the-rule, koreksinya dengan lensa silinder pada aksis sekitar 90°.

Sedangkan untuk mengoreksi secara permanen atau menyembuhkan silinder, hanya bisa dilakukan dengan bedah refraktif atau operasi laser (LVC). Ada tiga metode LVC, masyarakat umum menyebut ketiganya sebagai operasi Lasik.

Lasek (PRK)

PRK adalah singkatan dari Photorefractive Keratectomy. Istilah lainnya adalah Lasek. Yaitu prosedur bedah refraktif dengan melepas permukaan kornea/epitel kemudian membentuk kornea dengan laser.

PRK merupakan generasi pertama LVC. Dan hingga saat ini masih digunakan untuk pasien dengan kondisi mata tertentu.

prk

Femto LASIK

Femto LASIK (Laser Assisted In-Situ Keratomielusis) adalah metode bedah refraktif yang membentuk flap dengan mesin femtosecond laser, membukanya, lalu membentuk kornea dengan mesin excimer laser

Femto LASIK merupakan generasi kedua LVC. Metode inilah yang merupakan LASIK sesungguhnya. Operasinya berlangsung lebih cepat, proses pemulihannya juga cepat, dampak pasca operasi lebih nyaman daripada PRK, dan efek terjadinya mata kering pasca operasi juga lebih ringan.

femto lasik

Relex SMILE

Relex SMILE (Refractive Lenticule Extraction – Small Incision Lenticule Extraction) adalah metode bedah refraktif yang paling canggih, lebih canggih dari PRK dan LASIK. Hampir  tidak terasa sakit dan pemulihannya jauh lebih cepat.

Relex SMILE merupakan generasi ketiga LVC. Prosedurnya hanya membutuhkan sedikit sayatan (2-4mm), tanpa flap, sehingga rasa sakitnya hampir tidak terasa.

Selain itu, Relex Smile juga dapat meminimalisasi efek samping pasca operasi seperti mata kering. Secara keseluruhan, prosedur Relex Smile cenderung sangat nyaman dan proses pemulihan  penglihatan jauh lebih cepat.

relex smile

Begitu cepatnya pemulihan pasca operasi, LASIK Advisor National Lasik Center (NLC) dr. Harka Prasetya, SpM(K) mengatakan, “Pagi Anda operasi Relex SMILE, sore Anda bisa berlatih tinju.”

Baca juga: Perbedaan PRK, LASIK, dan Relex SMILE

Ketiga metode ini –PRK, LASIK, dan Relex SMILE- semuanya tersedia di National Lasik Center (NLC). Jadi, kapan Anda membebaskan diri dari kacamata atau lensa kontak? #HappyLasik #TrulyLasik

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on pinterest
Share on twitter
Open chat
Hai Selamat Datang di NLC
ada yang bisa kami bantu?