4 Persiapan Sebelum Lasik, dari Anamnesis hingga Hari-H

Sebelum operasi lasik, ada sejumlah persiapan yang perlu dilakukan. Berikut ini 4 persiapan sebelum lasik, dari anamnesis hingga hari-H.

Anamnesis

Anamnesis adalah suatu tehnik pemeriksaan paling awal dalam pelayanan kedokteran melalui percakapan atau wawancara oleh dokter dengan pasien tersebut. Melalui anamnesis, dokter bisa mengungkap motivasi pasien melakukan lasik. Ini sangat penting sebagai persiapan sebelum lasik.

Misalnya, seseorang yang ingin lasik karena hobbinya. Contohnya berenang dan diving, yang tentu tidak nyama jika menggunakan kacamata. Juga olah raga yang membutuhkan penglihatan jelas tanpa kacamata.

Ada pasien yang memerlukan lasik terkait pendaftaran pekerjaan tertentu. Misalnya tentara, polisi, pilot, dan pramugari. Pekerjaan-pekerjaan tersebut juga membutuhkan penglihatan jelas tanpa kacamata.

Ada pula pasien dengan alasan kosmetik. Merasa kurang percaya diri jika memakai kacamata. Ada pula yang ingin operasi lasik dengan alasan kenyamanan. Memakai kacamata terasa tidak nyaman. Hal seperti ini perlu disampaikan kepada dokter.

Patient Selection

Persiapan sebelum lasik yang kedua adalah seleksi pasien untuk prosedur lasik (Patient Selection for Lasik Procedure). Secara umum, pasien yang memenuhi kriteria untuk operasi lasik adalah:

1. Berusia di atas 18 tahun

Mengapa harus usia di atas 18 tahun? Karena pada usia ini umumnya status refraksi sudah stabil. Ketika refraksi sudah stabil, kemungkinan terjadinya regresi (pertambahan atau penurunan plus atau minus) setelah lasik sangat kecil.

2. Ketebalan kornea di atas 500

Kriteria berikutnya untuk pasien lasik adalah ketebalan korneanya di atas 500 mikron.

3. Refractive error

Kriteria ketiga untuk pasien lasik adalah tingkat kelainan refraksinya. Yakni untuk miopia -1.00 hingga -12.00 D. Untuk silinder kurang dari 6.00 D. Dan untuk hipermetropia kurang dari 6.00 D.

4. Status refraksi sudah stabil

Pasien yang memenuhi kriteria untuk prosedur lasik, status refraksinya sudah stabil selama 6 bulan hingga 1 tahun terakhir.

5. Menghentikan pemakaian lensa kontak

Sebelum operasi lasik, pemakaian lensa kontak harus sudah berhenti paling lambat 7 hari sebelumnya. Idealnya, 2—4 minggu sebelumnya.

Sedangkan untuk pengguna Rigid Gas Permeable (RGP), ia harus menghentikan pemakaiannya paling tidak 2 minggu sebelumnya.

6. Histori kesehatan mata

Pasien perlu menceritakan histori kesehatan mata (eye health history) yang ia alami. Apakah pernah punya riwayat infeksi mata, herpetic keratitis, glaukoma, keratoconus, atau retinal detachement. Sebab hal-hal itu merupakan kontraindikasi dari dilakukannya tindakan lasik.

Juga untuk mereka yang mengalami sindrom mata kering. Karena lasik dapat menyebabkan sindrom mata kering menjadi berat. Untuk penderita sindrom ini, sebaiknya tidak memilih femto lasik maupun PRK. Pilihan terbaiknya adalah Relex Smile yang efek samping mata keringnya sangat minim.

7. Histori medis

Pasien juga perlu terbuka menyampaikan histori medis (medical history) yang ia alami. Ini bagian dari persiapan sebelum lasik yang tak bisa diabaikan. Apakah ia menderita diabetes, collagen vascular disease, SLE, RA, marfan syndrome, atau sedang mengandung. Sebab semua ini beresiko. Misalnya diabetes yang umumnya memicu katarak.

Untuk memastikan kondisi kesehatan medis khususnya untuk penyakit-penyakit di atas, sebelum operasi lasik akan dilakukan pemeriksaan.

Pemeriksaan menyeluruh

Setelah memastikan pasien memenuhi kriteria-kriteria tersebut, persiapan sebelum lasik berikutnya adalah pemeriksaan menyeluruh (comprehensive examination).

Pemeriksaan menyeluruh ini untuk menentukan status refraksi. Mengetahui refraksi secara tepat dan akurat sangat penting untuk menentukan dosis laser ketika operasi lasik.

Diperlukan pula refraksi dengan cycloplegic. Yakni dilakukan ketika di ruang pemeriksaan dengan meneteskan obat tetes yang fungsinya untuk melumpuhkan daya akomodasi mata. Sehingga dokter bisa mengetahui status refraksi yang sebenarnya. Tindakan ini sangat penting bagi pasien hipermetropia (rabun dekat).

Berikutnya, perlu juga pemeriksaan dengan tear film. Pemeriksaan ini untuk menentukan status atau kondisi air mata. Yaitu dengan tear breakup time (TBUT) dan schimer test. Pastikan TBUT >10 s dan schimer test >10 mm.

Selain itu juga perlu pemeriksaan tekanan bola mata dengan non contact tonometry dengan nilai normal <21 mmHg.

Setelah itu dokter akan melakukan pemeriksaan slit lamp. Melalui slit lamp examination, dianalisis kondisi pupil, kondisi pupil saat gelap. Ini berfungsi terutama untuk pengendara di malam hari agar tidak silau ketika berhadapan dengan sorot lampu mobil lain atu lampu jalan.

Berikutnya pemeriksaan funduscopy, bisa dengan Goldmann three mirror. Tidak kalah penting, corneal pachymetry yaitu untuk memeriksa ketebalan kornea. Juga pemeriksaan corneal tomography, untuk melihat bentuk kornea mata yang akan dikerjakan dengan tindakan lasik.

Persiapan hari-H operasi

Jika tiga poin sebelumnya adalah sebelum operasi, sekarang persiapan pada hari-H operasi (Patient D-Day Preparation).

1. Hindari parfum beralkohol

Pasien tidak boleh menggunakan parfum atau cologne yang mengandung alkohol. Sebab bisa mengganggu prosedur laser tersebut. Demikian pula kosmetik atau aksesoris yang bahan dasarnya alkohol.

2. Tidak memakai make up

Sebaiknya tidak menggunakan make up pada hari-H. Karena penggunaan make up juga bisa mengganggu prosedur laser tersebut.

3. Jangan menyetir sendiri

Jangan menyetir sendiri. Karena setelah operasi, biasanya pasien akan merasa silau dan membutuhkan adaptasi. Adaptasi ini bisa 1-2 hari. Bahkan ada yang hingga 3 hari.

4. Jangan bepergian jauh

Jangan bepergian jauh. Sebab kelelahan bisa mempengaruhi kondisi fisik dan psikis yang akan menyulitkan tindakan laser di kamar operasi.

National Lasik Center (NLC) sebagai pusat lasik yang berlokasi di Surabaya siap melayani mulai dari diskusi persiapan sebelum lasik hingga operasi lasik yang minim rasa sakit dengan pemulihan yang lebih cepat. #HappyLasik #TrulyLasik []

*dr. Diaz Alamsyah Sudiro, SpM
Dokter Spesialis Mata NLC

Sebelum operasi lasik, ada sejumlah persiapan yang perlu dilakukan. Berikut ini 4 persiapan sebelum lasik, dari anamnesis hingga hari-H.

Anamnesis

Anamnesis adalah suatu tehnik pemeriksaan paling awal dalam pelayanan kedokteran melalui percakapan atau wawancara oleh dokter dengan pasien tersebut. Melalui anamnesis, dokter bisa mengungkap motivasi pasien melakukan lasik. Ini sangat penting sebagai persiapan sebelum lasik.

Misalnya, seseorang yang ingin lasik karena hobbinya. Contohnya berenang dan diving, yang tentu tidak nyama jika menggunakan kacamata. Juga olah raga yang membutuhkan penglihatan jelas tanpa kacamata.

Ada pasien yang memerlukan lasik terkait pendaftaran pekerjaan tertentu. Misalnya tentara, polisi, pilot, dan pramugari. Pekerjaan-pekerjaan tersebut juga membutuhkan penglihatan jelas tanpa kacamata.

Ada pula pasien dengan alasan kosmetik. Merasa kurang percaya diri jika memakai kacamata. Ada pula yang ingin operasi lasik dengan alasan kenyamanan. Memakai kacamata terasa tidak nyaman. Hal seperti ini perlu disampaikan kepada dokter.

Patient Selection

Persiapan sebelum lasik yang kedua adalah seleksi pasien untuk prosedur lasik (Patient Selection for Lasik Procedure). Secara umum, pasien yang memenuhi kriteria untuk operasi lasik adalah:

1. Berusia di atas 18 tahun

Mengapa harus usia di atas 18 tahun? Karena pada usia ini umumnya status refraksi sudah stabil. Ketika refraksi sudah stabil, kemungkinan terjadinya regresi (pertambahan atau penurunan plus atau minus) setelah lasik sangat kecil.

2. Ketebalan kornea di atas 500

Kriteria berikutnya untuk pasien lasik adalah ketebalan korneanya di atas 500 mikron.

3. Refractive error

Kriteria ketiga untuk pasien lasik adalah tingkat kelainan refraksinya. Yakni untuk miopia -1.00 hingga -12.00 D. Untuk silinder kurang dari 6.00 D. Dan untuk hipermetropia kurang dari 6.00 D.

4. Status refraksi sudah stabil

Pasien yang memenuhi kriteria untuk prosedur lasik, status refraksinya sudah stabil selama 6 bulan hingga 1 tahun terakhir.

5. Menghentikan pemakaian lensa kontak

Sebelum operasi lasik, pemakaian lensa kontak harus sudah berhenti paling lambat 7 hari sebelumnya. Idealnya, 2—4 minggu sebelumnya.

Sedangkan untuk pengguna Rigid Gas Permeable (RGP), ia harus menghentikan pemakaiannya paling tidak 2 minggu sebelumnya.

6. Histori kesehatan mata

Pasien perlu menceritakan histori kesehatan mata (eye health history) yang ia alami. Apakah pernah punya riwayat infeksi mata, herpetic keratitis, glaukoma, keratoconus, atau retinal detachement. Sebab hal-hal itu merupakan kontraindikasi dari dilakukannya tindakan lasik.

Juga untuk mereka yang mengalami sindrom mata kering. Karena lasik dapat menyebabkan sindrom mata kering menjadi berat. Untuk penderita sindrom ini, sebaiknya tidak memilih femto lasik maupun PRK. Pilihan terbaiknya adalah Relex Smile yang efek samping mata keringnya sangat minim.

7. Histori medis

Pasien juga perlu terbuka menyampaikan histori medis (medical history) yang ia alami. Ini bagian dari persiapan sebelum lasik yang tak bisa diabaikan. Apakah ia menderita diabetes, collagen vascular disease, SLE, RA, marfan syndrome, atau sedang mengandung. Sebab semua ini beresiko. Misalnya diabetes yang umumnya memicu katarak.

Untuk memastikan kondisi kesehatan medis khususnya untuk penyakit-penyakit di atas, sebelum operasi lasik akan dilakukan pemeriksaan.

Pemeriksaan menyeluruh

Setelah memastikan pasien memenuhi kriteria-kriteria tersebut, persiapan sebelum lasik berikutnya adalah pemeriksaan menyeluruh (comprehensive examination).

Pemeriksaan menyeluruh ini untuk menentukan status refraksi. Mengetahui refraksi secara tepat dan akurat sangat penting untuk menentukan dosis laser ketika operasi lasik.

Diperlukan pula refraksi dengan cycloplegic. Yakni dilakukan ketika di ruang pemeriksaan dengan meneteskan obat tetes yang fungsinya untuk melumpuhkan daya akomodasi mata. Sehingga dokter bisa mengetahui status refraksi yang sebenarnya. Tindakan ini sangat penting bagi pasien hipermetropia (rabun dekat).

Berikutnya, perlu juga pemeriksaan dengan tear film. Pemeriksaan ini untuk menentukan status atau kondisi air mata. Yaitu dengan tear breakup time (TBUT) dan schimer test. Pastikan TBUT >10 s dan schimer test >10 mm.

Selain itu juga perlu pemeriksaan tekanan bola mata dengan non contact tonometry dengan nilai normal <21 mmHg.

Setelah itu dokter akan melakukan pemeriksaan slit lamp. Melalui slit lamp examination, dianalisis kondisi pupil, kondisi pupil saat gelap. Ini berfungsi terutama untuk pengendara di malam hari agar tidak silau ketika berhadapan dengan sorot lampu mobil lain atu lampu jalan.

Berikutnya pemeriksaan funduscopy, bisa dengan Goldmann three mirror. Tidak kalah penting, corneal pachymetry yaitu untuk memeriksa ketebalan kornea. Juga pemeriksaan corneal tomography, untuk melihat bentuk kornea mata yang akan dikerjakan dengan tindakan lasik.

Persiapan hari-H operasi

Jika tiga poin sebelumnya adalah sebelum operasi, sekarang persiapan pada hari-H operasi (Patient D-Day Preparation).

1. Hindari parfum beralkohol

Pasien tidak boleh menggunakan parfum atau cologne yang mengandung alkohol. Sebab bisa mengganggu prosedur laser tersebut. Demikian pula kosmetik atau aksesoris yang bahan dasarnya alkohol.

2. Tidak memakai make up

Sebaiknya tidak menggunakan make up pada hari-H. Karena penggunaan make up juga bisa mengganggu prosedur laser tersebut.

3. Jangan menyetir sendiri

Jangan menyetir sendiri. Karena setelah operasi, biasanya pasien akan merasa silau dan membutuhkan adaptasi. Adaptasi ini bisa 1-2 hari. Bahkan ada yang hingga 3 hari.

4. Jangan bepergian jauh

Jangan bepergian jauh. Sebab kelelahan bisa mempengaruhi kondisi fisik dan psikis yang akan menyulitkan tindakan laser di kamar operasi.

National Lasik Center (NLC) sebagai pusat lasik yang berlokasi di Surabaya siap melayani mulai dari diskusi persiapan sebelum lasik hingga operasi lasik yang minim rasa sakit dengan pemulihan yang lebih cepat. #HappyLasik #TrulyLasik []

*dr. Diaz Alamsyah Sudiro, SpM
Dokter Spesialis Mata NLC

Open chat
Hai Selamat Datang di NLC
ada yang bisa kami bantu?