Operasional: Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB

Operasional: Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB

Retinopati: Jenis, Gejala, dan Cara Mengobati

retinopati

Retina mempunyai peran vital sebagai bagian dari mata. Sejumlah penyakit bisa mengenai bagian mata ini, di antaranya ada retinopati. Apa itu retinopati, jenis, gejala, dan bagaimana penanganannya?

Apa Itu Retinopati

Retinopati adalah kerusakan pada retina yang mengganggu penglihatan hingga menyebabkan kebutaan. Umumnya, kerusakan ini terjadi akibat kelainan pembuluh darah atau aliran darah yang abnormal.

Retinopati merupakan gangguan yang serius. Ia termasuk penyakit yang mengurangi kualitas hidup. Bahkan pada tingkat yang parah, ia bisa mengganggu kegiatan sehari-hari sehingga kehidupan pasien berubah sama sekali.

Penyakit ini berbahaya karena ia menyerang retina, bagian vital dari mata yang berfungsi membentuk penglihatan. Ketika retina mengalami kerusakan, fungsinya tidak lagi bekerja dan penglihatan menjadi tak sempurna bahkan bisa buta.

Jenis-Jenis Retinopati

Berdasarkan penyebabnya, retinopati bisa dibedakan menjadi empat jenis. Gejala dan penanganan tiap jenis berbeda meskipun ada beberapa kemiripan. Kemunculannya berbeda. Ada yang perlahan-lahan dan ada pula yang tiba-tiba.

Retinopati Diabetik

Retinopati diabetik adalah gangguan retina akibat hiperglikemia kronik pada penderita diabetes mellitus (DM).

Diabetes melitus mengakibatkan pembuluh darah di seluruh tubuh termasuk yang di dalam mata rapuh sehingga mudah mengalami kebocoran. Jika pembuluh darah tersebut bocor, maka terjadi komplikasi di mata khususnya vitreous dan lapisan retina.

Retinopati diabetik merupakan salah satu penyebab utama gangguan penglihatan di seluruh dunia pada pasien usia 20-64 tahun. Faktor risikonya adalah umur, tipe diabetes melitus, gangguan faktor pembekuan, dan penyakit ginjal.

Penderita diabetes yang tidak menjaga konsumsi gula dan menjalani pengobatan rutin sangat berisiko mengalami jenis kerusakan retina yang menurut data Kementerian Kesehatan, prevalensinya mencapai 42,6 persen ini.

Retinopati Prematuritas

Retinopati prematuritas adalah kerusakan retina akibat kelainan pertumbuhan pembuluh darah pada bayi yang lahir prematur.

Kelainan retina ini terjadi pada bayi yang lahir kurang dari 30 minggu, dengan badan kurang dari 1.500 gram. Faktor risiko dari retinopati prematuritas adalah konsumsi oksigen dalam jangka waktu lama (lebih dari 7 hari) dan saat lahir kondisi bayi tidak langsung menangis.

Apabila penyakit retina ini terlambat diketahui, ada risiko bayi mengalami kebutaan permanen.

Retinopati Hipertensi

Retinopati hipertensi adalah penyakit pada retina akibat hipertensi sistemik. Risiko penyakit ini meningkat dengan semakin lamanya menderita tekanan darah tinggi.

Saat hipertensi terjadi secara terus menerus, pembuluh darah di sekitar retina akan menebal dan membuat aliran darah ke retina tidak lancar. Semakin lama dan semakin parah, retina bisa terlepas dari posisinya hingga memicu kebutaan permanen.

Penyakit ini umumnya ditemukan pada pasien usia 40 tahun ke atas. Namun ia juga bisa terjadi pada usia di bawahnya yang memiliki tekanan darah tinggi di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.

Retinopati Serosa Sentral

Selain ketiga jenis di atas, ada pula retinopati serosa sentral. Yakni merembesnya cairan dari belakang retina sehingga menyebabkan penglihatan menjadi buram.

Belum diketahui secara pasti penyebab merembesnya cairan ini. Namun, dugaan kuat menyebutkan bahwa pemicunya adalah faktor genetis atau keturunan.

Dalam kondisi yang parah, penglihatan bisa hilang akibat lepasnya bagian sentral retina atau makula.

Baca juga: Biaya Lasik 2022

Gejala Retinopati

Setiap jenis kerusakan retina ini memiliki gejala yang berbeda tergantung penyebabnya. Meskipun, pada sebagiannya ada kesamaan. Gejala akan semakin terlihat ketika gangguan semakin parah atau memasuki stadium atas.

Gejala Retinopati Diabetik

Gejala jenis diabetik ini antara lain:

  • Penglihatan kabur atau samar
  • Kehilangan penglihatan mendadak pada satu atau dua mata
  • Terdapat bintik-bintik hitam pada visual
  • Mengalami fotopsia (merasakan kilatan cahaya di mata)
  • Kesulitan membaca atau melihat benda yang detail

Gejala-gejala ini umumnya baru terasa jelas ketika retinopati diabetik sudah parah atau masuk ke stadium akhir.

Gejala Retinopati Prematuritas

Tidak ada gejala fisik pada gangguan retina jenis ini. Hanya dokter mata atau oftalmologis berpengalaman yang bisa mendeteksinya.

Karenanya pada bayi prematur yang lahir di rumah sakit, dokter mata akan segera memeriksanya dengan kamera khusus untuk retina bayi.

Gejala Retinopati Hipertensi

Pada jenis ini juga sering kali tidak terdapat gejala yang jelas. Namun sebagian pasien mengeluhkan sulit melihat karena buram. Ada pula keluhan rasa nyeri pada mata dan sakit kepala.

Gejala Retinopati Serosa Sentral

Serosa Sentral juga tidak selalu menunjukkan gejala. Gejala paling umum adalah penglihatan kabur secara tiba-tiba pada satu mata. Terkadang juga dua mata sekaligus.

Selain itu, ada pula gejala lainnya seperti terdapat titik hitam di tengah penglihatan, ketajaman penglihatan berkurang, dan kesulitan membaca atau melihat benda yang detail.

Baca juga: Cara Menyembuhkan Mata Minus

Cara Mengobati Retinopati

Untuk mengobati atau menyembuhkan retinopati, tidak selalu penanganannya langsung pada mata. Sebab beberapa jenis retinopati bisa sembuh dengan mengatasi penyakit yang menjadi penyebabnya.

Misalnya untuk retinopati diabetik. Pengobatannya fokus pada penyembuhan diabetes pasien. Antara lain dengan mengontrol gula darah dan tekanan darah. Jika diperlukan, baru digunakan opsi berikutnya seperti terapi laser atau fotokougulasi dan injeksi VEGF inhibitor pada mata.

Pada retinopati prematuritas, yang sangat penting adalah pemeriksaan bayi secara intensif dan rutin secara bertahap. Jika terdeteksi retinopati, pemeriksaan dilakukan tiap 1-2 pekan mulai usia 8 minggu hingga 14 minggu. Berikutnya, pemeriksaan dilakukan setiap 1-2 bulan. Jika belum sembuh, pada tahap berikutnya bisa dengan tindakan laser.

Cara mengobati retinopati hipertensi yang paling utama adalah dengan mengurangi tekanan darah dan menjaganya pada level aman (120/80 mmHg). Jika tekanan darah di atas itu –terutama jika ada pembengkakan saraf optik, penderitanya perlu mendapat perawatan di rumah sakit.

Sedangkan retinopati serosa sentral bisa sembuh dengan sendirinya. Pada tahap tertentu, dokter akan menyarankan terapi kortikosteroid sekaligus untuk mencegah retinopati serosa sentral datang lagi.

Semua cara mengobati retinopati di atas memerlukan diagnosa dan tindakan dokter. Bukan penanganan mandiri oleh pasien. Jadi jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, segera konsultasikan ke dokter mata terdekat. []