Sejarah LASIK dan Perkembangannya

LASIK kini semakin populer di Indonesia. Masyarakat umum mengenalnya sebagai operasi mata dengan laser. Apa itu LASIK, bagaimana sejarah LASIK dan perkembangannya hingga di Indonesia?

Apa Itu LASIK

LASIK adalah singkatan dari Laser In Situ Keratomileusis. Yaitu prosedur laser untuk mengoreksi kelainan refraksi (miopia, hipermetropi, astigmatisme) sehingga bebas dari kacamata dan lensa kontak.

Pada dasarnya, lasik adalah salah satu metode atau teknik yang termasuk dalam Laser Vision Correction (LVC): operasi mata laser atau koreksi penglihatan laser. Namun, masyarakat umum biasa menyebut semua metode Laser Vision Correction (LVC) dengan istilah lasik.

Ada tiga metode LVC yaitu PRK atau lasek, Femto Lasik, dan Relex Smile. Masyarakat umum sering menyebut ketiga metode ini sebagai lasik.

Lalu bagaimana sejarah LASIK? Bagaimana penemuan metode operasi ini hingga berkembang seperti sekarang dan populer tidak hanya di dunia tetapi juga di Indonesia?

Sejarah LASIK

Sejarah LASIK kita mulai dari penemuan Keratomileusis pada tahun 1960-an, lalu PRK pada 1990-an, Femto Lasik, hingga Relex Smile.

Dekade 60-an

Pada 1960-an, Profesor José Ignacio Barraquer Moner atau lebih dikenal dengan Jose Barraquer berhasil mengembangkan prosedur autoplastik untuk memperbaiki gangguan refraksi mata. Prosedur ini diistilahkan dengan Keratomileusis. Istilah inilah yang nanti dipakai dalam Lasik (Laser In Situ Keratomileusis).

Jose Barraquer adalah seorang penemu dan dokter mata Spanyol. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Kolombia, termasuk saat menemukan Keratomileusis. Jose Barraquer inilah yang mendapat julukan Bapak bedah refraktif modern.

Dekade 70-an

Pada 1970-an, ahli ilmu mata Rusia, Svyatoslav Nikolayevich Fyodorov menemukan teknik Keratotomi Radial (RK). Penemuan ini setelah Svyatoslav Fyodorov melihat seorang anak muda yang rabun mengalami luka pada kornea akibat pecahan kaca.

Setelah lukanya sembuh, penglihatan anak muda tersebut menjadi lebih baik daripada sebelum mengalami luka. Dari ini ia berteori bahwa pemotongan radial membuat kornea menjadi rata dan penglihatan pun membaik.

Pada dekade yang sama, kelompok fisika dan kimia dari IBM® Thomas J. Watson Research Center di Yorktown, New York, menemukan Laser excimer. Samuel Blum, Rangaswamy Srinivasan dan James J. Wynne kemudian mengeksplorasi cara baru untuk menggunakan laser excimer.

Dekade 80-an

Pada 1980-an, Dr Steven Trokel memperkenalkan Photorefractive Keratectomy (PRK). Inilah generasi pertama Laser Vision Correction (LVC).

Dr Steven Trokel juga mematenkan laser Excimer untuk memperbaiki penglihatan dan melakukan operasi laser pertama pada mata pasien di tahun 1987.

Dekade 90-an

Pada tahun 1992, Stephen Slade dan Stephen Brint melakukan LASIK pertama di AS. Pada tahun 1993, Slade menggunakan microkeratome otomatis untuk membuat flap. Dia menyebut prosedur excimer ALK (E-ALK) atau flap.

Pada tahun 1994, Pallikaris dan rekannya mempublikasikan pengalaman awal mereka dalam penggunaan LASIK pada mata yang dapat melihat, serta studi pertama yang membandingkan LASIK dan PRK. LASIK terbukti lebih unggul dari PRK dalam hal stabilitas dan prediktabilitas untuk koreksi miopi lebih dari 10 dioptri.

Pada tahun 1996, Food and Drug Administration (FDA) menyetujui Photorefractive Keratectomy (PRK). Generasi pertama Laser Vision Correction (LVC) pun menjadi prosedur formal yang diterima secara legal.

FDA juga menyetujui penggabungan tekonologi flap dan pembentukan kembali kornea dengan laser excimer. Persetujuan LASIK oleh oleh FDA ini menandai dimulainya era operasi LASIK.

Pada tahun 1999, FDA menyetujui Summit Excimer Laser (Summit Technologies, Waltham, Mass.) untuk digunakan dalam LASIK.

Dekade 2000-an

Pada tahun 2001, FDA menyetujui Laser IntraLase yang merupakan laser femtosecond pertamanya untuk LASIK tanpa pisau di Amerika Serikat. IntraLase Inc. kemudian mengenalkan beberapa model baru laser ini dengan sejumlah fitur-fitur yang semakin canggih.

Pada Mei 2003, FDA menyetujui penggunaan Customized Wavefront LASIK, sebuah generasi koreksi penglihatan laser yang baru. Operasi dengan teknologi ini menghasilkan kualitas penglihatan yang lebih baik daripada saat memakai kacamata atau lensa kontak.

LASIK Generasi Ketiga

Saat ini, Laser Vision Correction (LVC) telah memasuki generasi ketiga. Yakni dengan teknologi terbaru Zeiss ReLEx® SMILE.

ReLEx® SMILE (Refractive Lenticule Extraction – Small Incision Lenticule Extraction) adalah metode bedah refraktif yang lebih canggih dari PRK dan LASIK, hampir  tidak terasa sakit dan pemulihannya lebih cepat.

Prosedurnya hanya membutuhkan sedikit sayatan (2-4mm) sehingga rasa sakitnya hampir tidak terasa. Ia juga tanpa flap. Juga meminimalisir efek samping pasca operasi seperti mata kering. Secara keseluruhan, prosedur Relex Smile cenderung sangat nyaman dan proses pemulihan penglihatan sangat cepat.

LASIK di Indonesia

Teknologi LASIK mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1997. Kini, ketiga generasi Laser Vision Correction (LVC) telah tersedia di Indonesia. Baik PRK, Femto LASIK, maupun Relex Smile. Sehingga masyarakat yang menginginkan operasi LASIK tidak perlu jauh-jauh keluar negeri.

National Lasik Center (NLC) sebagai salah satu pusat Laser Vision Correction (LVC) terbaik di Indonesia menyediakan tiga metode LASIK tersebut.

ReLEx® SMILE

ReLEx® SMILE (Refractive Lenticule Extraction – Small Incision Lenticule Extraction) adalah metode bedah refraktif yang lebih canggih dari PRK dan LASIK, hampir  tidak terasa sakit dan pemulihannya lebih cepat.

Relex Smile merupakan generasi ketiga Laser Vision Correction (LVC). Ia lebih canggih dari PRK dan LASIK. Prosedurnya hanya membutuhkan sedikit sayatan (2-4mm) sehingga rasa sakitnya hampir tidak terasa. Ia juga tanpa flap.

Selain itu, Relex Smile juga dapat meminimalisir efek samping pasca operasi seperti mata kering. Secara keseluruhan, prosedur Relex Smile cenderung sangat nyaman dan proses pemulihan penglihatan sangat cepat.

sejarah lasik

Femto LASIK

Femto LASIK (Laser Assisted In-Situ Keratomielusis) adalah metode bedah refraktif untuk mengatasi kelainan refraksi (miopia, hipermetropi, astigmatisme) dengan minim rasa sakit dan pemulihan cepat.

Femto Lasik merupakan generasi kedua Laser Vision Correction (LVC). Proses pemulihan berlangsung cepat, dampak pasca operasi lebih nyaman daripada PRK, dan efek terjadinya mata kering pasca lasik lebih ringan.

Lasek (PRK)

PRK adalah singkatan dari Photorefractive Keratectomy. Yakni prosedur bedah refraktif yang masih tetap digunakan untuk pasien Lasik dengan kondisi mata tertentu.

PRK atau sering disebut Lasek merupakan generasi pertama Laser Vision Correction (LVC). Prosedur PRK dilakukan dengan ablasi atau dilepasnya permukaan kornea.

Demikian sejarah LASIK dan perkembangannya hingga di Indonesia. Jadi, daripada jauh-jauh ke luar negeri dengan biaya mahal apalagi masih masa pandemi, Anda bisa memilih metode terbaik LASIK di National Lasik Center (NLC) yang berpusat di Surabaya. #HappyLasik #TrulyLasik []

Referensi:
Dimitri T. Azar, Douglas D. Koch. LASIK: Fundamentals, Surgical Techniques, and Complications. New York: Marcel Dekker, Inc; 2002
American Academy of Ophtalmology. Clinical Optics; 2017-2018 Basic and Clinical Science Course. San Fransisco: American Academy of Ophtalmology; 2018
dr. Harka Prasetya, SpM(K). 2021. Be Happy with SMILE. Dalam Eye Knowledge – Things That Must be Mastered to Make Your Patient Happy, Surabaya, 17 April.

LASIK kini semakin populer di Indonesia. Masyarakat umum mengenalnya sebagai operasi mata dengan laser. Apa itu LASIK, bagaimana sejarah LASIK dan perkembangannya hingga di Indonesia?

Apa Itu LASIK

LASIK adalah singkatan dari Laser In Situ Keratomileusis. Yaitu prosedur laser untuk mengoreksi kelainan refraksi (miopia, hipermetropi, astigmatisme) sehingga bebas dari kacamata dan lensa kontak.

Pada dasarnya, lasik adalah salah satu metode atau teknik yang termasuk dalam Laser Vision Correction (LVC): operasi mata laser atau koreksi penglihatan laser. Namun, masyarakat umum biasa menyebut semua metode Laser Vision Correction (LVC) dengan istilah lasik.

Ada tiga metode LVC yaitu PRK atau lasek, Femto Lasik, dan Relex Smile. Masyarakat umum sering menyebut ketiga metode ini sebagai lasik.

Lalu bagaimana sejarah LASIK? Bagaimana penemuan metode operasi ini hingga berkembang seperti sekarang dan populer tidak hanya di dunia tetapi juga di Indonesia?

Sejarah LASIK

Sejarah LASIK kita mulai dari penemuan Keratomileusis pada tahun 1960-an, lalu PRK pada 1990-an, Femto Lasik, hingga Relex Smile.

Dekade 60-an

Pada 1960-an, Profesor José Ignacio Barraquer Moner atau lebih dikenal dengan Jose Barraquer berhasil mengembangkan prosedur autoplastik untuk memperbaiki gangguan refraksi mata. Prosedur ini diistilahkan dengan Keratomileusis. Istilah inilah yang nanti dipakai dalam Lasik (Laser In Situ Keratomileusis).

Jose Barraquer adalah seorang penemu dan dokter mata Spanyol. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Kolombia, termasuk saat menemukan Keratomileusis. Jose Barraquer inilah yang mendapat julukan Bapak bedah refraktif modern.

Dekade 70-an

Pada 1970-an, ahli ilmu mata Rusia, Svyatoslav Nikolayevich Fyodorov menemukan teknik Keratotomi Radial (RK). Penemuan ini setelah Svyatoslav Fyodorov melihat seorang anak muda yang rabun mengalami luka pada kornea akibat pecahan kaca.

Setelah lukanya sembuh, penglihatan anak muda tersebut menjadi lebih baik daripada sebelum mengalami luka. Dari ini ia berteori bahwa pemotongan radial membuat kornea menjadi rata dan penglihatan pun membaik.

Pada dekade yang sama, kelompok fisika dan kimia dari IBM® Thomas J. Watson Research Center di Yorktown, New York, menemukan Laser excimer. Samuel Blum, Rangaswamy Srinivasan dan James J. Wynne kemudian mengeksplorasi cara baru untuk menggunakan laser excimer.

Dekade 80-an

Pada 1980-an, Dr Steven Trokel memperkenalkan Photorefractive Keratectomy (PRK). Inilah generasi pertama Laser Vision Correction (LVC).

Dr Steven Trokel juga mematenkan laser Excimer untuk memperbaiki penglihatan dan melakukan operasi laser pertama pada mata pasien di tahun 1987.

Dekade 90-an

Pada tahun 1992, Stephen Slade dan Stephen Brint melakukan LASIK pertama di AS. Pada tahun 1993, Slade menggunakan microkeratome otomatis untuk membuat flap. Dia menyebut prosedur excimer ALK (E-ALK) atau flap.

Pada tahun 1994, Pallikaris dan rekannya mempublikasikan pengalaman awal mereka dalam penggunaan LASIK pada mata yang dapat melihat, serta studi pertama yang membandingkan LASIK dan PRK. LASIK terbukti lebih unggul dari PRK dalam hal stabilitas dan prediktabilitas untuk koreksi miopi lebih dari 10 dioptri.

Pada tahun 1996, Food and Drug Administration (FDA) menyetujui Photorefractive Keratectomy (PRK). Generasi pertama Laser Vision Correction (LVC) pun menjadi prosedur formal yang diterima secara legal.

FDA juga menyetujui penggabungan tekonologi flap dan pembentukan kembali kornea dengan laser excimer. Persetujuan LASIK oleh oleh FDA ini menandai dimulainya era operasi LASIK.

Pada tahun 1999, FDA menyetujui Summit Excimer Laser (Summit Technologies, Waltham, Mass.) untuk digunakan dalam LASIK.

Dekade 2000-an

Pada tahun 2001, FDA menyetujui Laser IntraLase yang merupakan laser femtosecond pertamanya untuk LASIK tanpa pisau di Amerika Serikat. IntraLase Inc. kemudian mengenalkan beberapa model baru laser ini dengan sejumlah fitur-fitur yang semakin canggih.

Pada Mei 2003, FDA menyetujui penggunaan Customized Wavefront LASIK, sebuah generasi koreksi penglihatan laser yang baru. Operasi dengan teknologi ini menghasilkan kualitas penglihatan yang lebih baik daripada saat memakai kacamata atau lensa kontak.

LASIK Generasi Ketiga

Saat ini, Laser Vision Correction (LVC) telah memasuki generasi ketiga. Yakni dengan teknologi terbaru Zeiss ReLEx® SMILE.

ReLEx® SMILE (Refractive Lenticule Extraction – Small Incision Lenticule Extraction) adalah metode bedah refraktif yang lebih canggih dari PRK dan LASIK, hampir  tidak terasa sakit dan pemulihannya lebih cepat.

Prosedurnya hanya membutuhkan sedikit sayatan (2-4mm) sehingga rasa sakitnya hampir tidak terasa. Ia juga tanpa flap. Juga meminimalisir efek samping pasca operasi seperti mata kering. Secara keseluruhan, prosedur Relex Smile cenderung sangat nyaman dan proses pemulihan penglihatan sangat cepat.

LASIK di Indonesia

Teknologi LASIK mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1997. Kini, ketiga generasi Laser Vision Correction (LVC) telah tersedia di Indonesia. Baik PRK, Femto LASIK, maupun Relex Smile. Sehingga masyarakat yang menginginkan operasi LASIK tidak perlu jauh-jauh keluar negeri.

National Lasik Center (NLC) sebagai salah satu pusat Laser Vision Correction (LVC) terbaik di Indonesia menyediakan tiga metode LASIK tersebut.

ReLEx® SMILE

ReLEx® SMILE (Refractive Lenticule Extraction – Small Incision Lenticule Extraction) adalah metode bedah refraktif yang lebih canggih dari PRK dan LASIK, hampir  tidak terasa sakit dan pemulihannya lebih cepat.

Relex Smile merupakan generasi ketiga Laser Vision Correction (LVC). Ia lebih canggih dari PRK dan LASIK. Prosedurnya hanya membutuhkan sedikit sayatan (2-4mm) sehingga rasa sakitnya hampir tidak terasa. Ia juga tanpa flap.

Selain itu, Relex Smile juga dapat meminimalisir efek samping pasca operasi seperti mata kering. Secara keseluruhan, prosedur Relex Smile cenderung sangat nyaman dan proses pemulihan penglihatan sangat cepat.

sejarah lasik

Femto LASIK

Femto LASIK (Laser Assisted In-Situ Keratomielusis) adalah metode bedah refraktif untuk mengatasi kelainan refraksi (miopia, hipermetropi, astigmatisme) dengan minim rasa sakit dan pemulihan cepat.

Femto Lasik merupakan generasi kedua Laser Vision Correction (LVC). Proses pemulihan berlangsung cepat, dampak pasca operasi lebih nyaman daripada PRK, dan efek terjadinya mata kering pasca lasik lebih ringan.

Lasek (PRK)

PRK adalah singkatan dari Photorefractive Keratectomy. Yakni prosedur bedah refraktif yang masih tetap digunakan untuk pasien Lasik dengan kondisi mata tertentu.

PRK atau sering disebut Lasek merupakan generasi pertama Laser Vision Correction (LVC). Prosedur PRK dilakukan dengan ablasi atau dilepasnya permukaan kornea.

Demikian sejarah LASIK dan perkembangannya hingga di Indonesia. Jadi, daripada jauh-jauh ke luar negeri dengan biaya mahal apalagi masih masa pandemi, Anda bisa memilih metode terbaik LASIK di National Lasik Center (NLC) yang berpusat di Surabaya. #HappyLasik #TrulyLasik []

Referensi:
Dimitri T. Azar, Douglas D. Koch. LASIK: Fundamentals, Surgical Techniques, and Complications. New York: Marcel Dekker, Inc; 2002
American Academy of Ophtalmology. Clinical Optics; 2017-2018 Basic and Clinical Science Course. San Fransisco: American Academy of Ophtalmology; 2018
dr. Harka Prasetya, SpM(K). 2021. Be Happy with SMILE. Dalam Eye Knowledge – Things That Must be Mastered to Make Your Patient Happy, Surabaya, 17 April.

Open chat
Hai Selamat Datang di NLC
ada yang bisa kami bantu?