Operasional: Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB

Operasional: Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB

Uveitis: Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Mata tampak merah, rasanya nyeri, dan muncul floaters? Waspadai gejala uveitis. Penyakit mata apakah itu? Apa saja gejala dan penyebabnya serta bagaimana cara mengobatinya?

uveitis

Apa Itu Uveitis

Uvea adalah lapisan tengah pada bagian dalam mata. Ia terletak di antara sklera (bagian putih mata) dan retina. Uvea terdiri dari selaput pelangi mata (iris), lapisan pembuluh darah mata (koroid), dan jaringan ikat antara iris dan koroid (badan siliar).

Peradangan pada uvea inilah yang disebut sebagai uveitis. Peradangan ini menyebabkan pembengkakan dan kerusakan pada jaringan mata.

Uvea sangat penting sebab ia mengandung banyak pembuluh darah dan arteri yang mengantarkan darah ke bagian lain pada mata. Ketika uvea mengalami peradangan, kualitas penglihatan pun terpengaruh. Mulai yang ringan hingga pada tahap kronis yang mengakibatkan penyakit lainnya seperti katarak dan glaukoma. Bahkan bisa membuat mata menjadi buta.

Untungnya, prevalensi penyakit ini di Indonesia tergolong langka. Jumlah kasusnya kurang dari 150 ribu kasus per tahun.

Penyebab Uveitis

Mengetahui penyebab suatu penyakit sangat penting. Pertama, kita bisa melakukan pencegahan dengan menghindari penyebabnya. Kedua, kalau pun sudah mengalami sakit tersebut, ketapatan penyebab memudahkan penanganan atau mengobatinya.

Penyebab uveitis antara lain infeksi virus, jamur, dan bakteri. Sekitar 30-60% kasus di negara berkembang, penyebabnya adalah infeksi. Yang paling umum adalah herpes dan toxoplasmosis.

Namun, pada banyak kasus, penyakit ini dikaitkan dengan autoimun. Beberapa kondisi atau penyakit autoimun yang diduga dapat memicu peradangan ini antara lain:

  • Rheumatoid arthritis
  • Psoriasis
  • Ankylosing spondylitis
  • Kolitis ulseratif
  • Crohn’s Disease
  • Sarkoidosis

Baca juga: Blefaritis

Gejala Uveitis

Mengetahui gejala suatu penyakit juga sangat penting. Pertama, kita bisa menerka penyakit apa yang sedang kita derita. Kedua, menentukan waktu yang tepat kapan harus ke dokter agar tidak terlambat. Sedangkan bagi dokter, gejala sangat penting dalam penegakan diagnosis.

Gejala uveitis bisa muncul secara tiba-tiba atau berkembang secara bertahap hanya dalam kurun waktu beberapa hari. Gejala-gejalanya antara lain sebagai berikut:

  • Mata merah
  • Nyeri pada mata
  • Penurunan daya penglihatan
  • Pandangan yang menjadi buram
  • Mata menjadi sensitif terhadap cahaya
  • Ada bintik-bintik hitam yang muncul di dalam lapang pandang (floaters)

Gejala-gejala di atas adalah gejala umum. Sedangkan untuk masing-masing jenisnya, ada kekhusunan gejala meskipun sebagiannya hampir sama.

Baca juga: Penyebab Katarak

Jenis Uveitis dan Gejalanya

Secara umum, ada empat jenis uveitis berdasarkan bagian mata yang terdampak. Masing-masingnya memiliki gejala yang berbeda, penanganannya juga tidak sama.

Anterior uveitis

Yaitu jenis peradangan mata yang terjadi di bagian depan (anterior) mata, alias iris. Jenis ini tidak termasuk ringan tingkat keparahannya.

Gejala peradangan jenis anterior ini antara lain nyeri di bagian mata dan sakit yang tak kunjung hilang, mata memerah, sensitif terhadap cahaya (fotofobia), penglihatan buram, produksi air mata berlebih, dan pupil mengecil.

Intermediate uveitis

Yaitu peradangan yang terjadi di bagian tengah mata. Peradangan mengenai pars plana, yang terletak di antara iris dan koroid mata sehingga penglihatan pun menjadi buram dan berbayang.

Gejala peradangan yang umumnya terkait penyakit autoimun ini antara lain penglihatan berbayang, sensitif terhadap cahaya (fotofobia), dan peradangan ringan di bagian luar mata.

Posterior uveitis

Yaitu peradangan yang terjadi di bagian belakang (posterior) mata. Peradangan jenis ini umumnya lebih serius daripada jenis lainnya karena bisa menyebabkan luka di retina. Gejalanya antara lain penglihatan berbayang dan buram.

Panuveitis

Yaitu peradangan yang terjadi pada hampir seluruh bagian mata. Gejala-gejalanya merupakan kombinasi dari seluruh jenis peradangan mata.

Baca juga: Buta Warna

Cara Mengobati Uveitis

Pertama-tama, dokter mata akan melakukan penegakan diagnosis dengan anamnesis (menanyakan gejala dan kondisi pasien) dan pemeriksaan mata. Berikutnya, pemeriksaan lanjutan seperti tonometri, funduskopi, hingga CT Scan dan Angiografi mata.

Setelah penegakan diagnosis, dokter mata akan memberikan penanganan sesuai jenisnya. Tindakan berikut ini merupakan pilihan cara menangani uveitis. Bisa pula gabungan dari beberapa cara sebagai berikut:

Obat-obatan

Untuk kasus yang tingkat keparahannya rendah, dokter akan memberikan obat yang tepat sesuai kondisi pasien.

  1. Kortikosteroid. Obat untuk mengurangi peradangan.
  2. Antibiotik atau antivirus. Sesuai penyebab infeksi apakah bakteri atau fikus.
  3. Obat imunosupresif. Untuk uveitis yang terjadi pada kedua mata, atau jika pengobatan dengan kostikosteroid tidak berhasil.

Operasi

Pada stadium yang cukup parah, dokter akan mengambil tindakan operasi. Setidaknya ada dua jenis operasi untuk menyembuhkan peradangan.

  1. Vitrektomi. Yaitu operasi bedah mata untuk mengambil cairan vitreus pada mata.
  2. Operasi penanaman alat pelepas obat, yaitu operasi untuk menanam alat khusus guna menyalurkan obat kortikosteroid secara perlahan ke dalam mata.

Demikian pembahasan mengenai uveitis lengkap mulai dari definisi, gejala, penyebab, jenis, hingga cara mengobatinya. [mbk/NLC]